EDITORIAL
Terpuruk di Jalan Baru
Editorial Tribun Jambi
CERITA jalan rusak tidak pernah habis-habisnya. Seperti juga yang terjadi terhadap jalan lingkar Timur atau lazim disebut jalan baru Sijenjang, Kecamatan Jambi Timur, yang saat ini mengalami kerusakan parah. Saking parahnya, sejumlah truk (truk barang, CPO dan batu bara) sudah banyak terbalik atau terpuruk masuk lobang. Ini adalah pemandangan biasa, terkadang jadi tontonan.
Peristiwa terbaliknya truk batu bara yang baru saja terjadi Rabu (24/2) kemarin menyebabkan antrean panjang hingga satu kilometer lebih. Jejeran truk besar bergiliran lewat karena separoh jalan tertutup truk dengan tumpahan batu bara ke jalan. Kondisi seperti ini sering terjadi, tidak saja menghambat mobilisasi barang, tapi juga ganggu aktivitas publik.
Status jalan Nasional yang disandang jalan lingkar (Ring Road), sebetulnya tidak serta merta membuat Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Jambi berpangku tangan, dan terjadi pembiaran. Apalagi kawasan itu merupakan daerah padat lalulintas menjadi jalan alternatif dan urat nadi bagi mobil barang ke pelabuhan Talang Duku.
Apa jadinya kalau jalan Nasional ini terus menerus babak belur dan menjadi biang keladi kemacetan. Yang jelas, waktu tempuh menjadi bertambah dan tentu saja pengeluaran cost lebih tinggi. Tengok sajalah, antrean panjang ratusan tronton berbadan lebar tersebut berjejer tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu "bangkitnya" truk batu bara yang terbalik tersebut.
Kalau kilas balik pembangunan jalan lingkar Timur ini, sesungguhnya lokasi pembangunan jalan baru itu sebetulnya di atas rawa. Jalan yang membentang tersebut adalah tanah timbunan untuk menghindari dari banjir. Bagaimanapun kuatnya timbunan, lambat laun keropos apalagi dihantam hujan dan banjir.
Menurut pendapat beberapa pakar rekayasa transportasi, sehebat-hebatnya konstruksi jalan yang dibangun di dunia ini, tetaplah memiliki dua batasan yaitu beban melewatinya dan umur pakai. Artinya, jalan akan rusak manakala kena beban maksimal kemampuan jalan. Dan satu lagi musuh utama jalan cepat rusak, yakni air. Sistem drainase yang buruk membuat air tergenang dan segera menghancurkan aspal.
Mengutip Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Bambang Susantono mengatakan, tiga faktor utama menyebabkan kerusakan jalan adalah mutu pelaksanaan konstruksi jalan, kondisi drainase permukaan jalan sekitar, dan kelebihan beban pemakai jalan.
Fenomena jalan baru Sijenjang yang hingga kini tak pernah "bersahabat" menarik perhatian banyak pihak. Kenapa pusat dalam hal ini Direktorat Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat seperti berdiam diri. Sementara lambat laun jalan terus hancur dihajar truk-truk besar yang tonasenya sudah melebihi daya dukung jalan (overload). Sedang Dinas PU Provinsi Jambi beralasan ini jalan Nasional.
Apakah harus menunggu kondisi jalan benar-benar menjadi bubur, barulah pihak-pihak terkait tadi turun ke lapangan untuk memperbaikinya? Ya, kita lihat sajalah apa jadinya jalan baru yang menjadi jalan alternatif truk-truk besar agar tidak melewati jalan ke dalam kota. Mungkin pemangku kebijakan bisa turun ke lokasi, dan segera mengambil langkah konkret. (*)