Perbankan
Bank Belum Berniat Ubah Rencana Bisnis
Langkah Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan (BI rate) pada Januari–Februari
TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Langkah Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan (BI rate) pada Januari–Februari tahun 2016, belum berpengaruh ke rencana bisnis bank (RBB). Sejumlah bank belum akan mengubah RBB, setidaknya sampai medio 2016.
Semisal Bank Negara Indonesia (BNI). Rico Rizal Budimarmo, Direktur Keuangan BNI bilang, target bisnis BNI masih sesuai RBB. Cuma, rencana bisnis itu bisa direvisi paling lambat akhir semester pertama tahun berjalan.
"Jadi, sebelum Juni nanti mesti kami selesaikan, termasuk mengantisipasi kemungkinan perubahan suku bunga dan perkembangan dunia global," kata Rico kepada KONTAN, Jumat (19/2).
Tahun ini, BNI menargetkan pertumbuhan kredit 16% hingga 18%. Sementara dana pihak ketiga (DPK) diperkirakan tumbuh 14% hingga 16%. Sedangkan rasio pinjaman kredit terhadap jumlah simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) di kisaran 90%–92%.
Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga senada. Hari Siaga, Sekretaris Perusahaan BRI menuturkan, dalam penyusunan RBB, BRI sudah menyusun sejumlah skenario tes ketahanan atau biasa disebut stres test. "Evaluasi akan dilakukan setiap enam bulan sekali," kata Hari.
Tahun ini, BRI mengincar pertumbuhan kredit serta laba bersih masing-masing sebesar 13%–15% dan 3%–5%. Sedangkan LDR diprediksi berada di kisaran 85% hingga 90%.
Sebagai catatan, pada tahun 2015 laba bersih BRI hanya tumbuh sebanyak 4,13% dari tahun sebelumnya menjadi Rp 25,2 triliun. Lonjakan biaya pencadangan sebesar 50% menjadi Rp 8 triliun menjadi salah satu sebab anjloknya kinerja bank spesialis kredit mikro tersebut.
Kebijakan positif
Tidak berbeda dengan bank pelat merah, bank swasta seperti Bank Permata pun belum melihat urgensi revisi RBB pada saat ini. Roy Arman Arfandy, Direktur Utama Bank Permata bilang, pihaknya baru akan mengkaji kembali target bisnis pada pertengahan tahun.
"Beberapa pertimbangan revisi adalah likuiditas dan demand, permintaan terhadap kredit," kata Roy. Dia optimistis, penurunan instrumen suku bunga dapat menyebabkan likuiditas di pasar membaik serta mendorong pertumbuhan kredit. Tahun ini, Bank Permata menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 6%–10%.
Parwati Surjaudaja, Direktur Utama Bank OCBC NISP menambahkan, penurunan suku bunga acuan dan giro wajib minimum (GWM) diharapkan membantu likuiditas. Hingga saat ini, OCBC NISP masih memakai target bisnis yang sama seperti yang telah ditetapkan sebelumnya. Tahun ini, OCBC NISP memasang target pertumbuhan kredit sebesar 15%–20%
"Kami melihat pertumbuhan industri harusnya lebih baik di tahun 2016 karena faktor makro yang membaik," tutur Parwati.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/20052015_rupiah_20150520_114442.jpg)