Peminat Burung di Jambi semakin Redup
Pembeli burung di Pasar Burung Angso Duo semakin tahun pembelinya semakin sepi akibat ekonomi
Penulis: Heri Prihartono | Editor: Fifi Suryani
Laporan Wartawan Tribun Jambi Heri Prihartono
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Pembeli burung di Pasar Burung Angso Duo semakin tahun pembelinya semakin sepi akibat ekonomi masyarakat yang katanya melemah. Pedagang burung di Pasar Burung Angso Duo, Ngatimin juga bercerita jika peminat unggas di Jambi tak seramai di Jawa dengan adanya pembeli khusus.
Jika dahulu sehari pendapatannya diperkirakan hingga Rp 300 ribu, namun saat ini masih cukup sulit didapatkan.
"Kalau gak laku macam ni lah dari pagi ni gak ada yang beli," katanya di depan gerobak berisi puluhan unggas.
Ia mengaku unggas yang dijual bukan satwa larangan sehingga tak ada yang melarang apalagi peminatnya masih ada meskipun tidak banyak.
"Peminatnya karena imbas karet murah dan sawit anjlok jadi berdampak pada kita," katanya.
Di tempatnya yang masih banyak dicari masih ayam serama, merpati sedangkan burung di kelas Kacer, Murai Batu permintaan sesekali aja.
"Yang dicari orang paling burung murah seperti perkutut dan merpati," katanya.
Jika tak ada yang beli ia akan merugi pasalnya ratusan unggas ini jika ditotal dapat menghabiskan biaya hingga 2 juta per bulannya. "Untuk biaya makan aja itu. Nutupinnya ya kalau sekali laku baru untuk beli makanan," katanya.
Untungnya soal makan enggak terlalu susah, karena di toko sudah tersedia.
Penghasilannya pun tak menentu rata-rata Rp 3 juta, paling tinggi Rp 4 juta. Kadang tak ada yang beli selama beberapa hari setelah itu ada yang beli dan cukup beruntung jika sekelas mutiara dan kalkun terjual. Dua unggas ini harganya mulai 1 jutaan, dan dia mendapatkan laba Rp 200 ribu bersih.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/18022016_pasar-burung_20160218_203334.jpg)