Melongok Aktivitas Pasar Burung Bersejarah di Jambi
Siulan burung berbadan kecil hingga goyangan ayam bertubuh besar dari sangkar nan padat isi menjadi hiasan
Penulis: Heri Prihartono | Editor: Fifi Suryani
Laporan Wartawan Tribun Jambi, Heri Prihartono
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Siulan burung berbadan kecil hingga goyangan ayam bertubuh besar dari sangkar nan padat isi menjadi hiasan di sepanjang jalan yang ada di Pasar Burung Kota Jambi. Pasar Burung yang berada di sekitar Masjid Raja Megatsari ini memang tak setenar pasar burung Yuen Po Street Hongkong atau Pramuka di Jakarta Timur, namun sejarah akan mencatatnya.
Pasar Burung Angso Duo sejatinya menjadi pasar bersejarah di Kota Jambi, bahkan diperkirakan sejak tahun 1960 sudah ada. Ngatimin (86) menjadi saksi sejarah pasar burung ini, ia berada di pasar ini sejak tahun 1960.
Ia sempat berjualan berpindah-pindah mengelilingi Kota Jambi. " Saya pernah diusir berkali-kali," katanya mengingat masa lalunya.
Saat itu ia dan beberapa rekannya berjualan jenis burung beo, cucak rowo, perkutut hingga Balam. Setelah sekian puluh tahun berjualan akhirnya satwa yang ia jual bertambah seperti mutiara sampai kalkun.
Ia menuturkan satwa ini didatangkan dari Muntilan Yogyakarta sebulan sekali, jika stok habis barulah kiriman ditambah. " Sekali kirim biasanya 20 ekor," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/18022016_pasar-burung_20160218_203334.jpg)