Hijab Corner
GALERI FOTO: Bukan Untuk Saling Memojokkan
SETIAP daerah atau negara mempunyai fashion tersendiri dalam berbusana muslimah. Bagi Aliya Suryani,
Penulis: rida | Editor: Fifi Suryani
TRIBUNJAMBI.COM - SETIAP daerah atau negara mempunyai fashion tersendiri dalam berbusana muslimah. Bagi Aliya Suryani, berbusana muslim yang terpenting adalah memenuhi kaidah-kaidah yang telah ditetapkan.
Perempuan kelahiran 1977 ini mengatakan beberapa kaidah yang dimaksud seperti pakaian harus longgar atau tidak membentuk lekuk tubuh, bahannya tidak menerawang, jilbabnya menutupi dada dan busananya tidak menyerupai laki-laki.
"Selagi syarat tersebut terpenuhi mau modelnya gimana ya tidak masalah. Tidak mesti mengikuti yang sekarang lagi tren seperti jilbab panjang sampai ke lutut atau pakai gamis. Mungkin di daerah atau di negara lain akan beda fashion model hijabnya. Tapi selagi kaidahnya terpenuhi menurut saya itu bisa disebut syari," kata ibu tiga orang anak ini.
Gamis menurut Aliya bukanlah semata-mata pakaian perempuan. Di Arab, para lelaki juga mengenakan gamis. Hanya saja mungkin beda di bagian cuttingnya.

"Islam itu masuk ke Indonesia menyesuaikan diri. Tidak langsung menghilangkan akar-akar masyarakat budaya sini. Menurut saya Islam tidak selalu identik dengan Arab dan tidak harus juga kita seperti orang Arab," sebut Aliya yang juga pemilik Butik Hijab Story, di Telanaipura ini.
Aliya sangat menyayangkan adanya pro dan kontra mengenai busana atau hijab syari yang belakangan sering terjadi. Pemakai syari yang memojokan muslimah lain yang belum berpakaian syari menurutnya tidak pantas ditiru.
"Saya tidak bilang bersyari, tapi saya sedang belajar untuk itu. Takut ketika orang lihat ternyata tidak pakai, jadi gosip. Sekarang marak yang bersyari agak menghujat atau menyindir yang tidak bersyari. Kalau saya menghindari itu. Saya masih belajar dan belum tentu istiqomah," ungkapnya.
Aliya menyadari iman seseorang itu naik turun. Begitupun dirinya. Ia memilih untuk terus memperbaiki dan memantapkan hatinya daripada sibuk mengomentari busana orang lain.

"Mungkin sekarang dia belum bersyari, kita sudah. Tapi bukan berarti kita lebih baik dari Dia. Hidup itu berproses. Kalau saya memilih untuk ngelihat aja prosesnya.
Dia sudah menutup aurat saja seharusnya tetap diapresiasi. Ini nggak, kita malah suka meributkan syari gak syari. Sebenarnya masih banyak hal lain yang lebih penting," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/12022016_hijab2_20160212_170009.jpg)