Semoga Bukan Mimpi BUMN di Siang Bolong
MENTERI Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Mariani Soemarno sudah memberi sinyal, hanya tiga perusahaan BUMN saja yang menerima
MENTERI Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Mariani Soemarno sudah memberi sinyal, hanya tiga perusahaan BUMN saja yang menerima suntikan penyertaan modal negara (PMN) tahun ini. Mereka adalah Perusahaan Listrik Negara (PLN), Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo), dan Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo). Sisanya, harus berupaya sendiri mengusahakan pendanaan. Alasannya, kondisi keuangan negara sedang buruk.
BUMN, lanjut Rini, harus menekankan diri dan menunjukkan kemandirian, baik dari sisi bisnis maupun sebagai agen pembangunan tanpa menggunakan uang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Caranya, selain pembiayaan dari perbankan, BUMN bisa mengupayakannya lewat penjualan saham ke publik (IPO) anak perusahaan, penerbitan obligasi, atau holdingisasi. “Tahun ini, dengan kondisi keuangan (negara) saat ini, mungkin kami (BUMN) tidak akan meminta PMN,” tegas Rini, Senin (1/2).
Sesuai Roadmap BUMN 2015-2019, Rini ingin menegaskan BUMN sebagai agen pembangunan untuk menunjang program pemerintah. Di dalam roadmap alias peta jalan yang diperoleh KONTAN tertulis: mimpi BUMN menjadi agen pembangunan dan penciptaan nilai untuk mencapai kemandirian, kesejahteraan, keberlanjutan, dan kesetaraan.
Roadmap menggunakan kata "mimpi" dalam menargetkan tujuannya pada 15 sektor, yaitu ketahanan energi, pariwisata & kebudayaan, serta logistik & perdagangan. Lalu, ada juga mimpi di sektor ketahanan pangan & perkebunan, pelayanan kesehatan, dan ekonomi maritim & kawasan. Lantas, mimpi di sektor konstruksi dan infrastruktur, konektivitas, pertambangan, manufaktur, pertahanan strategis, industri berat & perkapalan, telekomunikasi & digital, jasa keuangan & perbankan, serta ekonomi kerakyatan.
“Mimpi BUMN di Sektor...” merupakan judul dari beberapa penjelasan yang ada di peta jalan tersebut. Untuk mencapai mimpi itu, ada empat pilar strategis, yaitu sinergi di antara BUMN (S), hilirisasi dan kandungan lokal (H), pembangunan ekonomi daerah terpadu (P), serta kemandirian keuangan dan penciptaan nilai (K). Empat pilar akan didukung oleh infrastruktur & konektivitas, kapasitas SDM & produktivitas, tata kelola yang baik, serta peraturan & kebijakan. Dari empat pilar, yang menarik adalah upaya sinergi, yaitu dengan penguatan BUMN melalui skema stand alone, merger/konsolidasi, dan holding.
Intinya, dari total 118 perusahaan BUMN akan menciut menjadi 85 BUMN. Di dalam peta jalan, ada penjelasan detail langkah-langkah setiap tahun mulai dari 2015 sampai 2019 per sektor. Termasuk, usulan skema memangkas jumlah BUMN supaya lebih efisien dan menghasilkan sinergi optimal. Singkat kata, roadmap akan menyiapkan enam perusahaan BUMN masuk ke dalam peringkat 500 perusahaan terbaik di dunia dan berkontribusi terhadap penerimaan negara sebesar Rp 635 triliun atau tumbuh dari posisi 2015 yang masih sekitar Rp 217 triliun.
Simak kelanjutan cerita "mimpi" BUMN ini di Tabloid KONTAN edisi 8 Februari - 14 Februari 2016 "Ke Arah Mana BUMN Kita".
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/03092015_rini-soemarno_20150903_150613.jpg)