Health and Beauty

Mewaspadai Penyebab tak Sadarkan Diri

Kasus tidak sadarkan diri sangat sering dijumpai di tengah masyarakat. Namun tidak banyak masyarakat

Penulis: rida | Editor: Fifi Suryani

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Kasus tidak sadarkan diri sangat sering dijumpai di tengah masyarakat. Namun tidak banyak masyarakat yang menyadari bahwa masalah tidak sadarkan diri ini erat kaitannya dengan otak dan dapat menimbulkan kegawatdaruratan.

Spesialis bedah syaraf dari RS Siloam Jambi Dr Ronny Setiawan SpBS, mengatakan masyarakat perlu mengenal kegawatdaruratan pada otak.

Sudut pandang bedah syaraf mengelompokan ada 4 golongan kasus yang terkait kegawatdaruratan pada otak.

Pertama trauma yaitu cedera yang mengenai kepala. Kedua vascular atau pembuluh darah. Ketiga tumor yaitu pertumbuhan sel yang abnormal. Keempat infeksi yang menyerang otak.

"Untuk trauma harus melalui riwayat cedera pada kepala. Lalu dia bisa pingsan, berbicara ngawur. Atau sadar namun mengalami sakit kepala hebat baru diikuti pingsan atau muntah dan kejang-kejang," ungkapnya.

Mekanisme kegawatdaruratan akibat trauma ini bisa karena membentur kepala ataupun menembus tulang kepala.

Karakteristiknya ditandai dengan adanya pendarahan pada otak. Baik pendarahan di luar selaput otak (epidural), dibawah selaput otak (subdural) maupun di dalam jaringan otak itu sendiri.

Untuk kegawatdaruratan kasus vascular atau pembuluh darah ditandai dengan riwayat nyeri kepala hebat yang belum pernah dialami sebelumnya.

"Ini bisa disertai muntah, kelemahan pd salah satu sisi tubuh sepertu di wajah, lengan atau kaki. Bisa juga sulit bicara dan penurunan kesadaran yang mendadak. Kegawatdaruratan saat terjadi stroke pendarahan atau stroke penyumbatan. Bisa juga terjadi hydrocepalus atau kebanjiran cairan otak," kata dr Ronny.

Untuk kegawatdaruratan yang diakibatkan tumor otak ditandai dengan nyeri kepala yang dialami dalam jangka waktu lama biasanya hingga berbulan-bulan. Biasanya pasien yang mengalami ini sering meminum obat baik pada pagi, siang ataupun malam hari.

Menurut dr Ronny kondisi ini bisa lebih parah karena pasien tidak menyadari mengidap tumor otak atau sakit kepalanya tidak normal. Beberapa kasus juga ditandai dengan kejang-kejang.

"Kegawatdaruratan terjadi saat tumor berdarah. Bisa juga terjadi hydrocepalus kronis karena tumor mengganggu jaringan otak," katanya.

Sementara itu untuk kegawatdaruratan pada kasus infeksi otak umumnya pasien memiliki riwayat demam, nyeri kepala dan muntah-muntah karena tekanan di dalam otak meningkat bahkan terkadang menimbulkan kejang-kejang.

"Kegawatdaruratan terjadi seperti saat terjadi radang selaput otak atau meningitis. Ini bisa karena terlalu capek bekerja sehingga virus masuk. Beberapa artis di Indonesia mengalami ini dan berujung meninggal dunia sehingga jika terjadi kegawatdaruratan perlu pertolongan segera," kata dr Ronny.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved