EDITORIAL
Berburu Prestise Bukan Prestasi
Editorial Tribun Jambi
GUBERNUR CUP yang jadi agenda sepak bola tahunan di Provinsi Jambi jauh panggang dari api dalam konteks pembinaan dan pengembangan atlet. Betapa tidak, laku yang ditunjukkan sejumlah PSSI di Jambi yang mengikuti event ini menyiratkan bahwa prestasi adalah daftar kesekian. Prestise, gengsi itu yang utama.
Inilah sesat pikir dunia olahraga kita. Maka wajar saja, dunia sepak bola di tanah air disanksi oleh FIFA prestasinya terjun bebas, apatah lagi di Jambi.
Didatangkannya sejumlah pemain nasional, ataupun di tingkat regional untuk membela PSSI kabupaten/kota jadi cerminannya. Lihat saja misalnya, apa yang dilakukan oleh PSSI Bungo. Demi menggondol gelar juara mereka mendatangkan tiga eks pemain Tim Nasional U‑19. Masing-masing, Paulo sitanggang, Maldini Pali dan Muklis Hadi Ning.
Tak mau kalah, Sungai Penuh segendang sepenarian. Ronaldo Eko Julianto, yang tak juga pernah menjadi punggawa Timnas U‑17 mereka kontrak. Lalu ada pula pemain dari Pekanbaru, yang akan membela Sungai Penuh.
Memang, tak ada yang salah dengan materi pemain itu. Sah-sah saja mengontrak pemain luar. Tapi alangkah naifnya, ditengah prestasi sepak bola Jambi yang jauh dari kata membanggakan, kondisi ini tentu seolah memandang sebelah mata bibit-bibit lokal.
Tak dapat dipungkiri, ada masalah pada jenjang kompetisi di sini. Pembinaan atlet yang berjenjang seolah nyaris tak ada.
Kalaulah pihak terkait, semisal KONI, Pemprov Jambi, juga pemda dan PSSI serius ingin membangkitkan prestasi sepakbola atau olahraga Jambi, harus ada perubahan radikal dan terprogram. Tapi begitulah, kita kadang terpukau dengan prestise dan bangga dengan prestasi asli tapi palsu.
Maka dari sini kita boleh menarik simpulan, bahwa Gubernur Cup masih dimaknai sebatas ajang hiburan. Di tengah dahaga masyarakat akan kompetisi, permainan yang bagus, mungkin para pemain nasional menjadi oase. Wajar saja bila event yang digelar untuk memeriahkan HUT Provinsi Jambi ini memang ajang hiburan. Layaknya pesta ulang tahun, hiburan adalah keniscayaan. Selamat tinggal prestasi. (*)