EDITORIAL

Lebih Peduli Atasi Bencana

Editorial Tribun Jambi

Editor: Duanto AS

SELAMAT tahun baru, selamat menghirup udara baru. Udara segar, nyaris tanpa kabut asap yang tahun kemarin sempat membuat kita pesimistis menghadapi hari-hari. Hari ini, besok dan seterusnya kita berharap udara segar ini tetap menaungi hari-hari kita. Dengan intensitas hujan yang membasahi bumi dan hati kita, diharapkan dapat menjamin ketersediaan bahan pangan di negeri ini.

Namun, apa mau dikata. Nick Klingaman dari University of Reading dengan analisa ilmiahnya sudah memprediksi tahun ini kekuatan el nino akan mencapai rekornya. Fenomana cuaca ekstrem ini diramal akan menyebabkan kekeringan di sejumlah wilayah dan memicu banjir di kawasan lain.

Imbasnya ternyata jauh lebih parah ketimbang el nino pada tahun kemarin. Tidak kurang dari 10 juta jiwa akan terimbas kelaparan dan penyebaran penyakit. Wilayah yang terkena dampak paling parah, seperti Afrika, akan mengalami krisis pangan pada Februari mendatang, artinya itu akan terjadi bulan yang akan datang.

Cuaca yang terjadi musiman ini memicu temperatur atau suhu global serta mengganggu pola cuaca. Serangan El Nino menyebabkan tahun ini dinobatkan sebagai tahun terpanas dunia. Nick Klingaman menyebut, pada sejumlah negara tropis, terjadi pengurangan intensitas hujan sekitar 20%-30%.

Bagaimana dengan Indonesia? Nick menyebut Indonesia disebut akan mengalami kekeringan hebat, tentunya akan lebih hebat dibanding yang kita alami pada tahun yang baru saja kita lewati. Berkaca pada pengalaman, prediksi ini tentu akan kembali berimbas kepada hasil panen petani kita, serta kekurangan air pada sejumlah daerah yang terpapar.

Namun yang paling mengkhawatirkan tentunya kebakaran hutan, momok yang mengkhawatirkan ini tentu diharapkan tidak lagi terjadi. Semua pihak diharapkan sudah waspada dari dini, akan kemungkinan terjadinya kebakaran secara tidak sengaja, apalagi yang mencoba melakukannya dengan sengaja. Jika kabut asap bisa diminimalisir, upaya hujan buatan tentunya bisa dimaksimalkan. Sehingga efek kemarau tidak terlalu berimbas pada daerah yang terpapar.

Mari kita minimalisir ungkapan keluhan, karena pada bencana tahun ini akan ada puluhan juta saudara kita di seberang sana yang lebih parah keadaannya ketimbang kita. Kekeringan dan banjir yang terus-menerus nantinya sudah mengundang kecemasan sejumlah sejumlah institusi bantuan global. Karena sekitar 31 juta orang diprediksi mengalami krisis pangan di Afrika. Jumlah ini meningkat signifikan dibanding tahun lalu.

Departemen Pengembangan Internasional Inggris mengatakan, pihaknya akan menyalurkan bantuan darurat bagi 2,6 juta orang dan 120.000 anak-anak kekurangan gizi. Mereka bahkan berkomitmen untuk menggelontorkan bantuan makanan atau dana tunai bagi 8 juta orang mulai Januari 2016.

Semoga prediksi dan kepedulian terhadap masyarakat yang akan merasakan dampaknya ini, membuat kita lebih care (peduli) pada lingkungan. Saling membantu menghadapi bencana semoga dapat lebih meringankan beban mereka yang paling rentan.

Dengan segenap doa dan harapan, kita serukan juga kepada negara-negara yang tengah berseteru atau berperang agar mengakhiri semua konflik yang ada. Sehingga energi yang dihabiskan percuma, dapat dialihkan untuk kepedulian bersama. Semoga. (*)

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved