EDITORIAL
Apa Setelah Tahun Baru?
Editorial Tribun Jambi
HARI ini, adalah hari terakhir di tahun 2015. Tahun 2016 pun di depan mata. Jauh hari sebelum hari pergantian tahun, gegap gempitanya sudah terasa dimana-mana.
Mal, pusat perbelanjaan menggeber promo juga belanja di larut malam. Perusahaan pembiayaan juga berlomba-lomba membawa promo yang dikait-kaitkan dengan tahun baru, kelab malam juga hotel apalagi.
Dan tak ketinggalan, pemeritah daerah pun memberi kesempatan warganya untuk berpesta bersama di malam pergantian tahun. Maka jadilah, malam pergantian tahun seolah malam sakral yang tak lengkap tanpa adanya perayaan.
Serangkaian dengan gegap gempita itulah, putaran uang pada malam tahun baru tentu tidak sedikit. Artinya, ada peningkatan konsumsi. Maka perayaan tahun baru juga dapat ditinjau dari sisi relasi manusia dan kebutuhannya.
Tak heran dalam kaca mata ini, perayaam tahun baru serupa mitos yang digadang-gadang pemodal. Menyitat teorinya Herbert Marcuse bahwa produk disadari atau tidak mensugesti orang akan makna kehidupan. Kehidupan inilah yang kemudian maknanya bisa ditemukan dari apa yang dikonsumsi, bukan apa yang dihasilkan. Walhasil, seseorang berkeinginan menjadi sosok tertentu dengan melakukan sesuatu. Bila kita kait-kaitkan, perwujudannya adalah merayakan tahun baru yang disana ada peran pemodal guna menarik laba.
Malam pergantian tahun sejatinya sama dengan malam-malam lainnya. Banyak yang kemudian menjadikannya momentum refleksi. Tujuan sederhananya satu, bagaimana tahun esok tidak lebih buruk dari tahun yang sudah lewat.
Maka, apa artinya pergantian tahun bila setelah perayaanya berlalu begitu saja. Karena sesungguhnya yang terpenting bukan soal pesta perayaanya. Lebih penting dari itu adalah bagaimana tahun baru bisa menjadi momentum perbaikan. Mulai dari individu, keluarga, lingkungan hingga pemerintah.
Jadi baiknya ajukan tanya dulu di dalam hati, setelah tahun baru lalu apa? Selamat berkontempelasi, memikirkan resolusi. Selamat tahun baru. Jangan jadi orang merugi bila di tahun baru kita tidak lebih baik dari tahun kemarin. (*)