Kerjasama Dagang dengan China tak Menguntungkan
Kementerian Perdagangan tak tertarik membuka diri lebih jauh untuk China dan India.
TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Kementerian Perdagangan tak tertarik membuka diri lebih jauh untuk China dan India.
Menteri Perdagangan Thomas T. Lembong mengatakan, kerjasama dengan China dan India tidak begitu menguntungkan jika dilihat dari segi perdagangan.
"Kerjasama kita dengan China tiap tahunnya rata-rata defisit US$ 14 miliar," ujar Thomas Lembong, Senin (7/12/2015).
Dia mengatakan, hal ini disebabkan karena China dan India merupakan negara-negara dengan low income dan low cost.
Kondisi ini berbeda jauh dengan kerja sama antara Indonesia dengan Amerika, Eropa atau Australia.
Kata Thomas, Amerika, Eropa atau australia adalah negara-negara dengan income tinggi serta cost tinggi.
"Terbukti kerjasama kita dengan Amerika surplus dari US$ 7 miliar hingga US$ 10 miliar per tahunnya," ujar Thomas.
Dia menganggap, kerjasama antara Indonesia dan Amerika adalah Komplementer.
"Positif buat kita. Lebih-lebih mereka (Amerika) rajin investasi di kita," tuturnya.
Namun, Thomas menganggap defisit hasil dari kerjasama dengan China tidak apa-apa jika masih dalam kisaran US$ 14 miliar.
Tapi, hal ini harus dibarengi dengan China yang menggenjot investasi di Indonesia. Sehingga bisa menutupi nilai US$ 14 miliar itu.
"Makanya pak presiden gencar meminta China untuk berinvestasi di Indonesia," ujarnya.
Sebagai perbandingan, Thomas menggambarkan proyek dengan uang US$ 14 juta, Indonesia bisa membangun 3 proyek kereta cepat dari Bandung ke Jakarta.
"kereta cepat Jakarta-Bandung harganya aja US$ 5 miliar. Kalau buat 3 sudah 15 miliar. Ini di sini kita setiap tahun defisit US$ 14 miliar," pangkas Thomas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/14082015_mendag_thomas_lembong_20150814_225948.jpg)