Revaluasi, Aset BNI Bertambah Gemuk Hingga Rp 12 T

Bank Negara Indonesia (BNI) langsung tancap gas merevaluasi aset demi memperbesar aset

Revaluasi, Aset BNI Bertambah Gemuk Hingga Rp 12 T
KONTAN/FRANSISKUS TAMPUBOLON

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Bank Negara Indonesia (BNI) langsung tancap gas merevaluasi aset demi memperbesar aset dan menggenjot kinerja. Hitungan BNI, revaluasi aset memberikan tambahan aset sebesar Rp 10 triliun hingga Rp 12 triliun.

Direktur Keuangan BNI Rico Rizal Budidarmo mengatakan, proses penilaian kembali total aset sudah selesai dilakukan. Hasil revaluasi aset sebesar Rp 12 triliun itu diproyeksikan bakal menggemukkan modal inti (CAR) tier 1 BNI menjadi 17,4 % dari posisi saat ini sebesar 14,7%.

Tapi, penambahan aset ini mengharuskan BNI membayar Rp 190 miliar-Rp 200 miliar untuk membayar pajak penghasilan (PPh) final sebesar 3%. Tak hanya itu, kewajiban BNI membayar pungutan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun bakal bertambah sekitar Rp 6 miliar atau 0,05% dari hasil revaluasi.

Mayoritas aset BNI yang mengalami revaluasi merupakan tanah dan bangunan dalam bentuk bangunan kantor, rumah dinas dan wisma pelatihan. Selain mempertebal modal, hasil revaluasi aset bakal digunakan ke beberapa pos pada tahun 2016.

Tapi, BNI masih mengkaji penggunaan hasil revaluasi aset tersebut. “Penggunaan lain dana hasil revaluasi masih dikaji,” ujar Rico, Rabu, (25/11).

Yang sudah pasti, karena modal naik, BNI bakal memanfaatkan hasil revaluasi aset untuk memacu kredit. BNI menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 14% sampai 16% atau sebesar Rp 364,8 triliun hingga Rp 371,2 triliun di sepanjang tahun 2016.

Target ini lebih tinggi dari proyeksi pemerintah yang sebesar 12%-14%. Gambaran saja, hingga tutup tahun ini, bank berlogo 46 ini berharap bisa menyalurkan kredit sebesar Rp 320 triliun.

Per September 2015, BNI sudah mengucurkan pinjaman sebesar Rp 307,1 triliun. Direktur Utama BNI Achmad Baequni menambahkan, komposisi portofolio tahun depan tidak jauh berbeda dibandingkan dengan porsi baki kredit tahun ini.

Hingga September 2015, segmen kredit business banking menyumbang sekitar 70%. Sementara, lini bisnis konsumer berkontribusi sebesar 17%. “Tahun depan yang menjadi motor penggerak ekonomi adalah infrastruktur, maka tahun depan kami akan fokus ke sektor ini juga,” imbuh Baequni.

Baequni menyatakan, saat ini BNI sudah menyalurkan kredit sektor infrastruktur mencapai Rp 63 triliun atau 20,5% dari total kredit. Direktur Bussiness Banking BNI Herry Sidharta menargetkan, pihaknya bakal mengucurkan kredit sekitar Rp 30 triliun di sektor infrastruktur.

Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved