Jumat, 10 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Jakarta, Kota Sejahtera Kedua di Asia Pasific

Mastercard baru-baru ini mengeluarkan Indeks Kesejahteraan Kota-kota di Asia Pasifik (Asia Pacific Cities Well-Being Index)

Editor: Fifi Suryani
Warta Kota/Panji Baskhara Ramadhan
Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (22/4/2015) 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Mastercard baru-baru ini mengeluarkan Indeks Kesejahteraan Kota-kota di Asia Pasifik (Asia Pacific Cities Well-Being Index) yang mengungkapkan bahwa masyarakat yang tinggal di kota-kota negara berkembang (65,8) lebih memiliki sikap positif terhadap kesejahteraan dibandingkan mereka yang berada di kota-kota negara maju (56,8).

Hampir 9.000 orang di 33 kota di 17 negara di Asia Pasifik telah disurvei untuk Indeks tersebut yang mengukur tingkat kesejahteraan secara keseluruhan dengan menilai sikap masyarakat terhadap empat komponen, yaitu Pekerjaan dan Keuangan (Work and Finances), Keamanan dari Ancaman (Safety from Threats), Kepuasan (Satisfaction), dan Kesejahteraan Pribadi (Personal Well-Being).

Indeks dihitung dimana nol sebagai yang paling negatif, 100 sebagai yang paling positif, dan 50 sebagai netral.

Hasilnya menunjukan Bangalore (73,2) merupakan kota dengan sikap yang paling positif, diikuti oleh Jakarta (72,1) dan Delhi (71,7).

Sedangkan kota dengan sikap yang paling tidak positif adalah Dhaka (48,7) diikuti oleh Tokyo (52,1), dan Busan (52,5).

Indeks tersebut menunjukan adanya perbedaan yang paling signifikan pada tingkat sikap positif terlihat pada saat mendiskusikan hal mengenai “Kesejahteraan Pribadi” (65,4 di kota-kota negara berkembang vs. 51,6 di negara maju), yang meliputi keluarga, tekanan pekerjaan dan keuangan, serta kesehatan.

Secara keseluruhan, masyarakat di kota-kota negara maju merasakan lebih banyak tekanan, dan kurang optimis saat berbicara mengenai kesehatan secara umum dibandingkan dengan mereka yang berada di kota-kota negara berkembang.

Selain itu, masyarakat di negara maju juga merasa lebih tertekan terhadap “Pekerjaan dan Keuangan” mereka (59,4 di kota-kota negara maju vs. 71,0 di negara berkembang).

Mereka yang tinggal di negara maju juga kurang optimis terhadap prospek pendapatan rutin mereka di masa depan serta pekerjaan dibandingkan dengan mereka yang berada di kota-kota negara berkembang.

Meskipun demikian, mereka memiliki kontrol yang lebih baik dalam menjaga jumlah tagihan mereka (75,8 vs. 59,3) dan menabung untuk pengeluaran yang besar (62,1 vs. 52,2).

Kota-kota negara maju di Australia (Adelaide: 21,7; Perth: 22,0; Brisbane: 24,5; Melbourne: 28,0; Sydney: 36,3), Korea Selatan (Busan 37,0) dan Taiwan (Taipei: 38,7) merupakan kota-kota yang paling pesimis terhadap prospek pekerjaan mereka.

Sementara itu, masalah yang menjadi perhatian bersama di kota-kota negara maju maupun negara berkembang berfokus sekitar “Keamanan dari Ancaman” (57,7 pada kota-kota di negara berkembang; 56,5 di negara maju).

Kejahatan Keuangan (54,7 di kota-kota negara berkembang; 56,6 di negara maju) serta kejahatan dunia maya (55,8 di kota-kota negara berkembang; 50,9 di negara maju) menjadi sebab untuk suatu perhatian tertentu.

Georgette Tan, Group Head, Communications, Asia Pasifik, MasterCard mengatakan asumsi yang sering muncul di masyarakat ialah bahwa perkembangan ekonomi mengarah kepada berkurangnya tekanan keuangan, keluarga, dan pekerjaan.

Meskipun demikian, sudah jelas dipaparkan dalam Indeks Kesejahteraan Kota-kota di Asia Pasifik (Asia Pacific Cities Well-Being Index) yang pertama dari MasterCard tersebut bahwa masyarakat di negara maju lebih merasa sangat berada di bawah tekanan, baik di tempat kerja maupun dirumah.

Sumber: Kontan
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved