Rabu, 13 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Duo Luis, Dua dari Enam Pengkhianat Tersohor Sepanjang El Clasico

Berikut adalah enam pembelot tersohor el clasico Dua diantaranya bernama Luis,

Tayang:
Editor: Deddy Rachmawan
net/google

TRIBUNJAMBI.COM - Sabtu malam ini (21/11), dua raksasa Spanyol Real Madird dan Barcelona kembali bersua. Rivalitas Real Madrid dengan Barcelona telah begitu mengakar di Negeri Matador. Hal ini berimbas ke berbagai aspek, termasuk transfer pemain yang kerap diwarnai kontroversi serta menimbulkan kebencian di kalangan pendukung kedua kubu.

Sepanjang sejarah, terdapat 33 perpindahan pemain di antara kedua tim. Sebanyak 13 nama sempat singgah di klub lain terlebih dahulu dan 20 lain langsung menuju Madrid setelah membela Barcelona ataupun sebaliknya.

Berikut adalah enam pembelot tersohor el clasico pilihan JUARA.net. Dua diantaranya bernama Luis, Siapa saja mereka?


1. Luis Enrique

Di antara para pembelot tersohor el clasico lain, sosok Luis Enrique, tergolong spesial. Dia merupakan satu dari sedikit mantan pemain Madrid yang sanggup menuai kesuksesan bersama Barcelona.

Semasa berseragam Madrid (1991-1995), Enrique tercatat melakoni sembilan laga el clasico, dengan rincian dua menang, tiga seri, dan empat kalah. Partai paling berkesan terjadi pada pekan ke-16 La Liga 1994/95 saat dirinya menyumbang satu dari lima gol Madrid di Santiago Bernabeu, 7 Januari 1995.

Di musim panas 1995, Enrique menanggalkan seragam putih Madrid guna bergabung dengan Barcelona. Langkah ini membuat ia menjadi sasaran cemoohan pendukung fanatik Los Blancos dalam duel el clasico.


Luis Enrique, satu dari sedikit eks pemain Real Madrid yang menuai kesuksesan saat pindah ke Barcelona.

Selama berkostum biru-merah, Enrique telah tampil sebanyak 14 kali (6 menang, 4 seri, 4 kalah) serta membukukan lima gol di el clasico. Uniknya, setiap kali pria kelahiran Gijon itu menggetarkan gawang, Barcelona tidak pernah kalah.

Hanya saja, kesempurnaan Enrique itu tercoreng oleh perkelahian dengan Zinedine Zidane pada musim 2003/04. Pemicunya adalah tensi tinggi laga el clasico plus tindakan Zidane menyikut Carles Puyol.

2. Luis Figo

Ini dia pembelot paling fenomenal sepanjang sejarah rivalitas Madrid dengan Barcelona. Luis Figo seperti menyiram bensin ke dalam api ketika memutuskan meninggalkan Camp Nou menuju Santiago Bernabeu pada musim panas 2000.


Segala jerih payah Figo dalam membantu Barcelona memenangi tujuh gelar bergengsi, yaitu Supercopa de Espana 1996, Copa del Rey 1997, Piala Winner 1997, Piala Super Eropa 1997, La Liga 1997/98, Copa del Rey 1998, dan La Liga 1998/99 seakan terhapus dari memori pendukung Barcelona.


Luis Figo, pembelot el clasico yang paling sering menerima perlakuan nyeleneh dari pendukung Barcelona.

Setiap kali Figo menyambangi Camp Nou, seisi stadion kompak meneriaki dan melontarkan kata-kata makian kepadanya. Berbagai benda mulai dari korek api, kaleng bir, botol air mineral, bola golf, dan ponsel pernah beterbangan saat ia hendak mengambil lemparan ke dalam atau sepak pojok.

Peristiwa mencengangkan terjadi pada el clasico edisi perdana di La Liga 2002/03, 23 November 2002. Pendukung Barcelona semakin ekstrem dalam mengumbar kebencian kepada Figo dan kali ini mereka menggunakan kepala babi sebagai salah satu ‘amunisi’.



3. Alfredo Di Stefano

Sejarah mencatat rivalitas antara Madrid dan Barcelona telah berlangsung sejak 1930-an. Perseteruan tersebut bertambah runcing akibat skandal transfer Alfredo Di Stefano dari River Plate yang terjadi pada musim panas 1953.

Di Stefano merupakan pemain idaman Madrid dan Barcelona. Kedua klub sama-sama berupaya semaksimal mungkin guna mendapatkan tanda tangan striker berjulukan Saeta rubia alias Si Panah Pirang itu.

Setelah melalui proses yang rumit, Di Stefano akhirnya berlabuh ke Madrid. Kubu Barcelona meradang dan melontarkan isu campur tangan diktator Spanyol saat itu, Jenderal Franco, yang diketahui lebih memihak Los Blancos.

Konon, Di Stefano sudah lebih dulu mengenakan seragam biru-merah dan bertanding di sebuah laga persahabatan sebelum dibajak Madrid. Barcelona pantas merasa kesal karena Di Stefano lantas berandil membawa sang rival menuju era keemasan (1955-1964).

4. Bernd Schuster

Pada awal dekade 1980-an, Barcelona memiliki pemain bertalenta hebat bernama Bernd Schuster. Gelandang berkebangsaan Jerman itu adalah bagian penting dalam kesuksesan tim merengkuh berbagai gelar seperti Copa del Rey (1981, 1983, 1988), Piala Winner (1982), Supercopa de Espana (1983), dan La Liga (1985).

Schuster memang hebat di atas lapangan, tapi ia juga mempunyai sisi gelap. Dia kerap bermasalah dengan sejumlah pelatih Barca, mulai dari Helenio Herrera (1980-81), Udo Lattek (1981-83), Terry Venables (1983-87), hingga Luis Aragones (1987-88).

Puncak dari perilaku negatif Schuster terjadi setelah Barcelona gagal memenangi Piala Champion 1985/86 akibat ditekuk Steaua Bucharest di final. Dia mulai malas-malasan berlatih, memperkuat timnas tanpa izin klub, bahkan mengindahkan negosiasi kontrak.

Schuster akhirnya angkat kaki dari Camp Nou pada musim panas 1988. Dia kemudian memilih Madrid sebagai pelabuhan baru serta sukses membantu klub barunya memenangi dua titel La Liga (1989, 1990), Copa del Rey 1989, dan Supercopa de Espana 1989.


5. Michael Laudrup

“Orang-orang menganggap saya hengkang ke Madrid untuk membalas dendam kepada Barcelona. Buat apa saya membalas dendam? Saya telah menjalani lima tahun yang fantastis di sana.”

Pernyataan tersebut keluar dari mulut Michael Laudrup sesaat setelah meninggalkan Barcelona pada musim panas 1994. Pemain bintang asal Denmark itu mengaku kepindahannya murni karena ingin membantu Madrid meniti kejayaan.

Benar saja. Laudrup langsung mempersembahkan titel jawara La Liga di musim perdana. Dia bahkan ikut andil melukai Barcelona dengan beragam aksi yang berujung kemenangan telak lima gol tanpa balas dalam laga el clasico, 7 Januari 1995.


6. Samuel Eto’o

Pembelot tersohor el clasico yang terakhir adalah Samuel Eto’o. Nama striker berkebangsaan Kamerun itu barangkali tak begitu terdengar tatkala berseragam Madrid (1997-2000) mengingat ia memang kerap dipinjamkan ke klub lain.

Eto’o juga tak secara langsung membelot karena ia terlebih dulu singgah di Real Mallorca selama empat musim sebelum menerima pinangan Barcelona pada musim panas 2004. Dia pun bukanlah sasaran kebencian Madrid di laga el clasico edisi 2004/05.

Segalanya berubah saat Eto’o mengeluarkan kata-kata penghinaan terhadap Madrid dalam seremoni juara Barcelona di Camp Nou, 15 Mei 2005. Dia meneriakkan kalimat "Madrid cabron” yang berarti “Madrid brengsek”.

Perilaku Eto’o telah menyulut kebencian Madridista. Kendati sudah meminta maaf dan menyesali perbuatannya, sang pemain tetap mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari suporter Madrid setiap kali menyambangi Santiago Bernabeu.


Samuel Eto'o, menghina dan merendahkan Real Madrid sehingga kerap menjadi sasaran cemoohan Madridista di laga el clasico.

(juara.net)


Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved