Senin, 13 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Ikan Terkecil juga Ada di Geragai

Ekosistem ikan terkecil di dunia Paedocypris progenetica ternyata bukan hanya terdapat di Kumpeh,

Penulis: Dedy Nurdin | Editor: Fifi Suryani

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Ekosistem ikan terkecil di dunia Paedocypris progenetica ternyata bukan hanya terdapat di Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi. Sejumlah wilayah diketahui juga menjadi habitat ikan yang kini terancam punah tersebut.

Kabid Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jambi, Hernowo mengungkapkan setidaknya ada tiga kawasan lain yang juga terdapat hewan air ini.

“Habitat ikan itu tidak hanya di Kumpeh, tapi juga ada di Berbak, Sungai Gelam dan kawasan hutan lindung Geragai,” bebernya kepada Tribun, Kamis (12/11).

Menurutnya, ikan Paedocypris progenetica telah ditemukan sejak tahun 2000an dan diteliti oleh IRD yang merupakan lembaga penelitian dari Perancis. Turut pula meneliti JICA lembaga penelitian dari Jepang.

“Mereka mendapat informasi mengenai ikan terkecil di dunia yang terdapat di wilayah Sumatera,” sebutnya.

Disinggung mengenai ancaman kepunahan ikan ini akibat kanalisasi pasca kebakaran lahan di Kumpeh ia bilang pihaknya akan mengecek ke lokasi. “Kita akan mengecek ke lapangan secepatnya. Sayang kalau memang perkembangan ikan itu terancam oleh pembangunan kanal tersebut,” jelas Hernowo.

Ia bilang, sejauh ini DKP belum mengetahui bagaimana perencanaan kanal itu. Tapi ia menekankan bahwa bila kanal menutupi jalur air ke habitat ikan, “jelas akan mengancam ekosistemnya. Tapi kita juga tidak bisa menjudge, apakah kanal itu menghambat perkembangbiakan.”

Jadi, sambungnya, harus dilihat dulu seperti apa bentuknya. Ia mengatakan, pada prinsipnya pembangunan bendungan, pintu air atau kanal itu harus menyisakan jalur untuk ikan bermigrasi, agar perkembang biakannya tidak terganggu.

“Siapapun pihak yang membuat bangunan, baik itu kanal ataupun bendungan harus ada izin dari pemerintah PU atau instansi terkait, apakah pembangunan itu merusak atau tidak nantinya. Jika pembangunan itu baik, bisa saja mendapat bantuan dana dari pemerintah,” ujarnya.

Terpisah, aktivis lingkungan Perkumpulan Hijau Jambi, Feri menilai langkanya ikan terkecil di dunia ini merupakan dampak kebakaran hutan yang terjadi setiap tahunnya di Jambi. Untuk itu, pemerintah harus secepatnya mengambil tindakan penyelamatan agar tidak terjadi kepunahan.

Feri juga menilai, perlu adanya upaya pemulihan di lahan gambut yang terbakar dengan mengembalikan fungsi gambut itu sendiri. Termasuk perusahaan, tegasnya, tak boleh lepas tangan.

"Pembuatan kanal juga perlu memikirkan soal bagaimana dampak pada ikan ini. Karena ini kekayaan alam kita dan harus dilindungi. Untuk perusahan juga harus bertangung jawab," katanya.

Dari rilis Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten Muarojambi, sejak Agustus hingga Oktober 2015 sekitar 4.352 hektare lahan dan hutan di kabupaten tersebut terbakar. 3.211 hekare diantaranya terjadi di Kecamatan Kumpeh, tempat ikan terkecil di dunia ini ditemukan.

Peneliti ikan Jambi dari Unja, Dr Tedjo Sukmono juga peneliti Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Haryanto member pandangan sama. Kebakaran gambut yang terjadi secara berulang-ulang setiap tahunnya sangat mengancam ikan terkecil di dunia ini.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved