EDITORIAL
Masyarakat Melek
Editorial Tribun Jambi
DAMPAK dari kerusakan alam sudah jamak diketahui akan selalu merugikan manusia. Bentuk kerugian tersebut mulai dari yang terlihat jelas, sampai yang baru akan terasa nanti bertahun, bahkan berpuluh tahun kemudian, atau sampai nanti generasi anak cucu.
Namun dampak yang membahayakan tapi tidak langsung terlihat inilah yang menjadikan manusia lalai, menganggap hal yang biasa, lalu lupa sama sekali.
Sejarah dan ilmu pengetahun terus menerus mengingatkan manusia bahwa peristiwa-peristiwa berulang, namun hanya manusia yang memiliki kebijaksanaan yang mampu mengambil pelajaran.
Belajar dari sejarah, mempelajari ilmu pengetahuan menjadi kunci bagi manusia untuk menjaga kelangsungan hidupnya, dan kelangsungan kehidupan bagi anak cucu.
Menyimak berita di koran Tribun ini kemarin, kembali barangkali sebagian besar dari kita di Jambi terhenyak, betapa begitu banyak anugerah yang dimiliki provinsi ini. Hasil penelitian, yang sayangnya dari pihak asing, bahwa kawasan perairan di sini menjadi habitat ikan terkecil di dunia menggambarkan bahwa banyak keistimewaan yang dipunyai Sumatera pada umumnya, dan Jambi khususnya.
Bentangan alam yang masih memiliki tutupan hutan yang mudah-mudahan tidak semakin tergerus lahan perkebunan, menyimpan aneka kekayaan alam yang berlimpah.
Selama ini kita seakan teralihkan, bahwa kekayaan alam hanya dari hasil tambang seperti emas dan batu bara, maupun dari tanaman perkebunan, sehingga demi kekayaan semacam itu, hutan dibabat secara masif tanpa memperhatikan kelangsungan daya dukung alam bagi manusia.
Dampak langsung dan terlihat yang manusia rasakan adalah kebakaran hutan, kabut asap, kekeringan pada musim kemarau, dan banjir pada musim hujan, ditambah lagi terancamnya kekayaan plasma nutfah, akibat kerakusan manusia lainnya.
Namun saat bencana datang silih berganti di daerah ini karena kerusakan alam, menyebabkan penderitaan bagi masyarakat kebanyakan, otak di balik kerusakan tersebut duduk dengan nyaman, tak tersentuh, di menara gading.
Melalui oknum-oknum pemerintah, dan aparat, atas nama profit, tangan-tangan mereka meraup kekayaan alam tanpa memperdulikan dampak terhadap lingkungan.
Melalui pendidikan, dan terus menimba ilmu, melek informasi, memiliki rasa ingin tahu, masyarakat yang selama ini paling merasakan dampak kerusakan lingkungan, bisa sedikit banyak mencegah semakin bertambah rusaknya alam. Masyarakat yang terdidik dan mengerti bagaimana dampak kebijakan bagi kehidupan mereka akan peduli dengan kepemimpinan dan sosok pemimpin yang baik, mulai dari struktur terkecil pemerintahan. (*)