EDITORIAL

Polisi untuk Diri Sendiri

Editorial Tribun Jambi

Editor: Duanto AS

ANGKA kriminalitas di Kota Jambi beberapa pekan terakhir terbilang tinggi. Hampir setiap hari kita mendapat informasi ada orang yang dijambret, atau pelaku kejahatan yang bonyok dihajar massa. Pada 2015 ini saja menutur catatan pihak

Polresta Jambi, lebih dari seribu tindak kejahatan, di antaranya curat (pencurian dengan pemberatan), curas (pencurian dengan kekerasan), dan curanmor terjadi di Kota Jambi.

Aksi jambret bisa tergolong pada curas, dan tidak menutup kemungkinan masuk kategori curat, karena disertai dengan tindakan penganiayaan terhadap korbannya.

Banyak faktor yang melatarbelakangi orang menjadi pelaku kejahatan. Setidaknya dari pengakuan HY (33), yang dibekuk polisi karena kasus jambret.

Mengikuti gaya hidup, adalah satu di antara faktor pelaku akhirnya berbuat kejahatan. Apalagi jika pelaku tidak memiliki pekerjaan. Tidak jarang, karena sering nongkrong dengan teman- teman, menjadi pemicunya.

Namun, dari catatan kepolisian, rerata pelaku kejahatan ini adalah para pemain lama. HY setidaknya sudah tujuh kali menjambret. Sedangkan AH, pelaku jambret yang diamankan Polsek Pasar menyebut, ia telah beraksi puluhan kali.

Tidak punya pekerjaan, adalah alasan utama yang diungkap pelaku saat disidik. Kondisi ini diperparah lagi karena pengaruh narkoba.

Lagi-lagi berdasar catatan kepolisian, sebagian besar pelaku kejahatan, adalah mereka yang sudah sering mengkonsumsi narkoba dan minuman keras. Lantaran ketagihan, dan mahalnya harga narkoba, memaksa para pelaku untuk mencari jalan pintas untuk mendapatkan uang.

Seperti ungkapan Bang Napi, tokoh iklan layanan masyarakat yang pernah populer di televisi, "Kejahatan bisa terjadi bukan saja karena ada niat si pelaku, tapi kejahatan juga bisa terjadi karena ada kesempatan. Waspadalah!

Ditegaskan Kasubag Humas Polresta Jambi AKP Sri Kurniati, tindak kejahatan terjadi juga tidak terlepas dari korbannya.
Sri menyebut, korbannya kerap memancing pelaku untuk bersaksi. Pada kasus jambret, korban sengaja memamerkan harta bendanya di muka umum, menggunakan perhiasan yang mencolok, menyandang tas dengan posisi diselempang.

"Kejahatan ini bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Maka dari itu warga harus waspada," katanya.

Kita selaku anggota masyarakat harus waspada. Jadilah polisi untuk diri sendiri. Hal ini dapat diartikan sebagai bentuk antisipasi dini. Banyak kita dapatkan informasi, ada ibu-ibu yang dijambret kalung atau gelang emasnya, tas yang disandang direnggut saat berkendara, dan sebagainya. Kejadian seperti itulah bentuk ketidakhati-hatian kita saat bepergian.

Karena sebagian besar korban jambret adalah kaum perempuan, ada baiknya juga membekali diri. Satu di antaranya dengan belajar ilmu bela diri praktis, seperti yang pernah disosialisasikan seorang perwira polisi yang juga mengajar di SPN Jambi.

Di lain pihak, pihak kepolisian dirasa perlu menghidupkan kembali patroli kota (Patko), yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Kota Jambi beberapa tahun belakangan ini. Saat itu angka kriminalitas di jalan raya cukup berkurang. (*)

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved