EDITORIAL

Payosigadung Buka Lagi?

Editorial Tribun Jambi

Editor: Duanto AS

WAKTU itu, banyak orang terkagum-kagum atas langkah berani Wali Kota Jambi Syarif Fasha yang menutup secara resmi lokalisasi Payo Sigadung, Kelurahan Rawasari, Kecamatan Kotabaru. Orang meramalkan banyak ekses yang akan timbul apabila lokalisasi yang sudah berdiri sejak puluhan tahun itu tiba-tiba ditutup.

Orang berpikiran, setidaknya Wali Kota Jambi akan mendapat perlawanan dari ratusan pekerja seks komersial (PSK), mucikari dan belum lagi para pelaku usaha yang sudah bertahun- tahun mengais rezeki di sana. Tapi, ketika langkah berani itu benar-benar dilakukan, Senin 13 Oktober lalu, semua mata seakan tak percaya. "Pucuk" benar-benar ditutup.

Perlawanan tetaplah ada, dari beberapa gelintir PSK dan mucikari yang tidak rela usahanya dihentikan.

Dan, kini sudah setahun berlalu, eks lokalisasi Payo Sigadung memang tidak terdengar lagi hiruk pikuk seperti saat terang-terangan membuka diri untuk para tamu yang ingin mendapatkan hiburan. Tapi, kesenyapan "Pucuk" tersebut bukan berarti sudah seratus persen terbebas dari praktik PSK dan mucikari atau sama sekali tutup.

Karena faktanya, Senin malam hingga Selasa dinihari tadi, saat tim gabungan Satpol PP, Polresta Jambi serta aparat TNI mengadakan razia, berhasil mengamankan sedikitnya 17 orang wanita yang diduga PSK. Ini membuktikan bahwa eks lokalisasi Payo Sigadung sama sekali belum terbebas dari praktik PSK. Apa yang digembar gemborkan selama ini, belum bisa dikatakan bahwa program penutupan "pucuk" berhasil.

Atas kejadian ini Wali Kota Jambi Fasha sudah mendapat laporan. Kata orang nomor satu di kota Jambi ini diamankannya beberapa orang di eks lokasi Payo Sigadung, masih dalam batas wajar. Ya wajar saja jika masih ada, tetapi kan tidak banyak hanya 17 orang. Fasha instruksikan mereka yang tertangkap harus dibina oleh dinas sosial terlebih dahulu, jangan langsung dipulangkan begitu saja, nanti mereka bisa kembali.

Diamankannya 17 orang wanita yang terduga PSK tersebut menunjukan bahwa, program penutupan lokalisasi yang menggelontorkan anggaran dari Kemensos waktu itu diterima Wali Kota Jambi Sy Fasha dalam bentuk cek Rp 1.610.950.000 untuk dibagikan kepada eks PSK, terkesan setengah hati. Dana sebanyak itu diberikan untuk 280 eks PSK "Pucuk" dan 39 eks PSK Langit Biru. Masing-masing eks PSK terima bantuan untuk Usaha Ekonomi Produktif Rp 3 juta, biaya hidup Rp 1,8 juta dan pemulangan Rp 250 ribu.

Terkait masih beroperasinya PSK di eks lokalisasi Payo Sigadung pun sudah pernah diwartakan Tribun awal Agustus tahun ini. Waktu itu Ketua RT 05 Kelurahan Rawasari Sudadi Rahman mengatakan ada sekitar 150 PSK yang masih ada di sana, dan sudah diajukan untuk menerima kompensasi tahun ini. Namun yang dipenuhi Kementerian Sosial hanya 53 orang.

Atas kejadian ini (diamankannya 17 orang terduga PSK), merupakan "tamparan" bagi semua pihak yang terkait dalam program penutupan "pucuk". Artinya, orang awam yang selama ini tahunya "pucuk" tutup, eh rupanya masih buka. Apapunlah alasannya, sekian miliar duit yang digelontorkan untuk "proyek" ini haruslah ada hasilnya. Kita tidak mengatakan "proyek" ini gagal, tapi fakta terang benderang, PSK masih berpraktik di sana. Dan fakta itu berdasarkan investigasi Tribun beberapa waktu lalu.

Harus diakui memang, untuk merealisasikan ini semua tidak segampang membalikan telapak tangan. Dibutuhkan niat, keikhlasan dan "tangan besi" semua pihak terkait untuk tidak memberi peluang bagi siapapun juga "bermain-main" dalam "proyek" ini. Kita tunggu lagi langkah Pak Wali Kota selanjutnya. (*)

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved