Kasihan, CA Dianiaya Teman-teman Sekelasnya

Seorang siswi kelas V SD Negeri 02 mengaku menjadi korban kekerasan yang dilakukan

Editor: Suang Sitanggang

TRIBUNJAMBI.COM, BEKASI - Seorang siswi kelas V SD Negeri 02 Bintara Jaya, Bekasi Barat mengaku menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh teman-teman sekolahnya pada Rabu (21/10/2015) pukul 09.30. Akibat kejadian itu, CA (11) mengalami luka lebam di bagian wajah. Bahkan CA enggan ke sekolah karena takut menjadi korban penganiayaan lagi.

Novi Napitupulu (29) bibi CA, mengatakan, aksi pemukulan itu terjadi saat jam istirahat di sekolah. Menurut dia, keponakannya itu disiksa oleh delapan teman laki-lakinya. Bukan hanya dianiaya, CA juga kerap diejek oleh rekan-rekannya.

"Dia suka diejek dengan kata burik oleh teman-temannya," kata Novi Napitupulu saat ditemui di rumahnya, Jalan Bintara III, Nomor 53, RT 03/08, Kelurahan Kranji, Kecamatan Bekasi Barat pada Jumat (23/10/2015).

Novi Napitupulu mengatakan, CA diejek 'burik' karena kulitnya sensitif. Kulitnya akan menimbulkan luka bekas, bila digigit oleh nyamuk. Dari situ, CA selalu diejek oleh rekannya.

"Meski sering diejek, tapi CA tidak pernah melawan, dia hanya nangis saja," kata Novi Napitupulu.

Tak puas diejek, kata Novi, teman-temannya malah menganiaya CA dengan tangan kosong. Bahkan kepala CA diduduki oleh rekannya hingga dia mengalami luka memar.

Korban yang mendapat kekerasan itu, lalu melaporkan kejadian ini ke Wali Kelas. Sayangnya, respon Wali Kelas tak sesuai harapan.

"Wali kelasnya cuma sebatas nanya dan memberikan peringatan kepada teman sekelasnya atas kejadian itu," kata Novi Napitupulu.

Setibanya di rumah, CA berusaha menghindari orangtuanya, Abu Khoir (33) dan Khoiriyah (30).

Tapi akhirnya, Khoriyah yang curiga dengan gelagat anaknya memaksa korban untuk membuka tangannya yang menutup wajah dengan es batu.

"Karena takut, CA sengaja menutup wajahnya dengan es batu, tapi ibunya curiga dan saat dibuka dia kaget anaknya luka lebam," ujar Novi Napitupulu.

Tak terima dengan kejadian itu, kedua orangtua menanyakan masalah ini ke sekolah pada keesokan harinya.

Namun, orangtua CA terkejut, saat mendapat klarifikasi dari pihak sekolah. "Parahnya, ternyata kepala sekolah juga baru tahu kabar ini," kata Novi Napitupulu.

Beberapa saat kemudian, pihak sekolah akhirnya memediasi keluarga korban dengan keluarga pelaku. Dari mediasi itu, diketahui perbuatan itu dilakukan oleh delapan teman lelaki CA.

"Seluruh orangtua pelaku siap menanggung biaya pengobatan korban dan atas nama anak-anaknya, mereka meminta maaf," ujar Novi Napitupulu.

Namun demikian, dia berharap agar pihak sekolah memberikan sanksi terhadap para pelaku. Mengingat latarbelakang ekonomi orangtua pelaku minim, maka kasus ini tidak dilaporkan ke polisi.

"Kami melihat kondisi keluarga pelaku yang memohon untuk tidak membawa kasus ini ke jalur hukum. Mereka nangis-nangis saat kasus mau dilaporkan," ujar Novi Napitupulu.

Kini, masalah ini pun keluarga sudah didampingi pihak KPAI Kota Bekasi untuk penanganan kasusnya terkait penanganan mental korban serta sanksi pelaku ataupun pihak sekolah.

Sumber: Warta Kota
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved