Komunitas

Cukup Dipegang 15 Menit

PERBURUAN reptil beberapa tahun terakhir semakin marak. Kerajinan kulit reptil yang bernilai tinggi membuat populasi

Penulis: rida | Editor: Fifi Suryani
TRIBUN JAMBI/ALDINO

TRIBUNJAMBI.COM - PERBURUAN reptil beberapa tahun terakhir semakin marak. Kerajinan kulit reptil yang bernilai tinggi membuat populasi hewan terancam.

Ketua Jambi Reptile Community (JRC) Ardi mengaku sangat terpukul melihat beragam kulit reptil disulap menjadi sejumlah kerajinan seperti tas, dompet, sepatu/sandal atau ikat pinggang.

"Sangat miris sekali. Sedih melihatnya. Kami khawatir lama-lama ini bisa punah. Kasihan anak cucu kita nanti tidak bisa nelihat berbagai jenis ular atau reptil," ungkapnya beberapa waktu lalu.

JRC tidak mau tinggal diam. Dari sekarang mereka intens melakukan sosialisasi untuk mengenalkan dan mengakrabkan reptil ke manusia.

Ardi mengatakan komunitas mereka sudah lima tahun berdiri. Dalam lima tahun ini mereka sudah melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah, mal dan ke radio-radio.

Ada banyak reptil yang dipelihara anggota JRC. Dari berbagai jenis ular-ularan baik berbisa maupun tidak, hingga ragam biawak maupun iguana.

"Semula orang-orang tidak terima lihat kita melihara ular. Tapi kita lakukan pendekatan. Lama kelamaan jadi suka. Ternyata seru juga memelihara ular," sebutnya.

Umumnya reptil dipelihara anggota komunitas dari kecil. Ardi mengatakan ular yang berukuran kecil lebih gampang dijinakkan daripada ular berukuran besar.

Jika ular berukuran besar butuh waktu hingga tiga mingu untuk ditundukkan, makan ular berukuran kecil cukup 15 menit saja. Caranya?

"Cukup dipegang-pegang. Sampai dia terbiasa," sebut Ardi.

Tidak takut dipatuk atau dililit? Menurut Ardi itu sudah menjadi risiko tersendiri.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved