Harga Sawit

Harga Sawit Jatuh Lagi

Perdagangan global sektor minyak mentah sawit (Crude palm oil/CPO) kembali tertekan. Imbasnya harga

Harga Sawit Jatuh Lagi
TRIBUN JAMBI/HANIF BURHANI
Petani memindahkan TBS sawit 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Perdagangan global sektor minyak mentah sawit (Crude palm oil/CPO) kembali tertekan. Imbasnya harga CPO di Provinsi Jambi mengalami penurunan Rp 400 per kilogram. Periode sebelumnya sempat menyentuh level Rp 6.446, kemarin (15/10) turun menjadi Rp 6.062 per Kg. Penurunan ini diikuti pula oleh anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit.

Harga TBS di tingkat petani plasma sebelumnya Rp 1.405 per Kg kini dibeli oleh pabrik kepala sawit (PKS) sebesar Rp 1.322 per Kg. Penurunan ini sejalan dengan berkurangnya harga jual tandan buah segar (TBS) sawit, sebagaimana ditetapkan dalam rapat penetapan harga di Dinas Perkebunan Provinsi Jambi.

"Sawit dan CPO turun, seperti biasa pengaruh ekonomi global. Sesuai hukumm pasar antara permintaan dan suplay," kata Putri Rainun, Kabid pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan, kepada wartawan kemarin (15/10).

Untuk harga inti sawit juga mengalami penurunan dari Rp 4.342 per Kg menjadi Rp 4.088 per Kg. Untuk usia tanam 3 sampai 9 tahun dipatok harga mulai Rp 1.036 sampai Rp 1.283 per Kg. Ia menyebutkan harga TBS maupun CPO selalau berfluktuatif setiap pekan, sehingga harga tersebut berlaku 16-22 Oktober mendatang.

Soal potensi kenaikan menurutnya, tergantung perdagngan global, bila permintaan tinggi dan produksi baik maka harga akan meningkat.

Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Provinsi Jambi, Roy Asnawi mengatakan belakangan gejolak ekonomi global turut mempengaruhi harga. Namun ia optimis kedepan akan ada kenaikan harga sawit, tentunya dengan peran pemerintah.
Salah satu upaya seperti kejasama antara produsen CPO Indonesia dan Malaysia yang akan menjadi negara penentu harga sawit. Semenetara di sisi lain ia mengatakan Apkasindo Jambi berharap kepada perusahaan agar tak ada disparitas harga antara sawit petani swadaya maupun plasma. Bahkan pihaknya sudah mengusulkan adanya Pergub yang mengatur soal harga sawit petani swadaya dengan plasma.

Ke depan hendaknya harga benar-benar berdasarkan kualitas nilai rendemen sawit. "Sebelumnya sempat diuji rendemen tapi musim hujan, nanti diulang lagi. jadi belum diberlakukan untuk nilai rendemen sawit yang baru," katanya.

Penulis: hendri dede
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved