Smart Women

Jadi Gemetaran, Tidak Bisa Ngomong

KABUT asap yang masih menyelimuti Kota Jambi menjadi tantangan tersendiri bagi Dewi Susilawati (33).

Penulis: rida | Editor: Fifi Suryani
TRIBUN JAMBI/ALDINO

TRIBUNJAMBI.COM - KABUT asap yang masih menyelimuti Kota Jambi menjadi tantangan tersendiri bagi Dewi Susilawati (33). Ia harus benar-benar menjaga dirinya agar tidak terkena ISPA sebagai dampak dari memburuknya kualitas udara.

Bukan tanpa sebab. Perempuan yang kerap disapa Miss Dewi ini harus memastikan kondisi kesehatannya sehat sebelum berangkat ke Amerika Serikat pada awal 2016 nanti. Jika sebelum berangkat sakit, bisa saja keberangkatannya dibatalkan.

"Makanya saya pakai masker terus. Walau masih lama tapi kan harus jaga kesehatan dari sekarang. Mereka tidak mau memberangkatkan kalau sakit," ungkapnya kepada Tribun, pekan lalu.

PNS yang berprofesi sebagi guru Bahasa Inggris di SMAN 4 Kota Jambi ini lolos sebagai satu dari empat guru asal Indonesia pada pertukaran guru ke Amerika Serikat. Disebutkannya, International Leaders in Education Program (ILEP) akan memberangkatkan 66 guru dari seluruh dunia ke Amerika Serikat pada awal 2016 nanti.

Dewi terpilih dari 189 pelamar asal Indonesia bersama tiga guru lain yang berasal dari Padang, Pekanbaru dan Medan. Ini merupakan tahun keempat ILEP diselenggarakan. Ia mengaku sangat bahagia bisa terpilih ke salah satu destinasi negera impiannya tersebut.

"(Waktu dapat kabar lolos-Red) Gemetaran tidak bisa ngomong. Diam aja dulu. Ini benaran nggak? Baca lagi baca lagi alhamdulillah benaran," sebutnya.

Ketercengangan perempuan lajang ini bukan tanpa sebab. Itu merupakan kali ketiganya ia ikut tes ILEP. Tahun pertama, 2013, ia tidak lolos ke tahap wawancara. Tahun kedua, 2014, Amerika memilih perwakilan dari Indonesia Timur. Tahun ketiga, 2015 menurutnya Sumatera sedang beruntung sehingga ia bisa terpilih.

Namun alumni SMAN 3 Kota Jambi ini mengaku sedari awal sudah optimis bisa lolos seleksi. Ini karena ia yakin tahun ini adalah giliran Sumatera. Menurut pemikirannya, pihak Amerika selalu memilih keterwakilan daerah yang belum pernah ikut program ILEP.

"Alhamdulillah. Bangga iya tapi deg-degan juga ada. Karena ini program yang tanggung jawabnya besar. Ini juga negara terjauh dan terlama yang saya datangi. Ini kan pendidikan sebelumnya saya ke Manila dan Kamboja hanya untuk presentasi dan menghadiri seminar," tandasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved