Smart Women

Miris, Baru Lahir Sudah Diberi Roti

DITEMPATKAN di Desa Purwodadi Tanjung Jabung Barat sebagai dokter PTT memberi kesan tersendiri bagi

Penulis: rida | Editor: Fifi Suryani
TRIBUN JAMBI/ALDINO

TRIBUNJAMBI.COM - DITEMPATKAN di Desa Purwodadi Tanjung Jabung Barat sebagai dokter PTT memberi kesan tersendiri bagi dr. Byanicha Aurora. Perempuan yang kerap disapa dr Orin ini sudah lebih satu tahun menjalani profesinya di desa yang jauhnya sekitar 3 jam menempuh jalur darat dari Kota Jambi.

"Pola pikir masyarakat kota dan desa itu berbeda. Di sana saya banyak menemui penyakit yang tidak ditemui di kota," katanya saat mulai menceritakan kisahnya di Desa Purwodadi kepada Tribun, beberapa hari lalu.

Sebagai satu dari dua dokter yang berada di desa tersebut, Orin dituntut untuk tahu segala hal tentang penyakit. Berikut pengobatannya. Hal inilah yang menjadi tantangan tersendiri baginya.

"Soft skill kita harus jalan karena kalau di kota kita bisa langsung konsul dengan spesialis. Kita juga tidak menangani sendiri. Kalau di desa kita menangani sendiri dengan peralatan yang seadanya," sebut Orin.

Bukan soal itu saja, terpenting, kata perempuan kelahiran 29 September 1990 ini adalah bagaimana menghadapi mindset masyarakat pedesaan. Seperti enggan dirawat inap dan ketakutan untuk menjalani perawatan rujukan. Menurutnya, masyarakat takut mendengar penyakit yang akan diderita jika dirawat lebih lanjut di rumah sakit rujukan.

"Padahal penyakitnya sudah parah tapi tidak mau dirujuk. Jadi sebisa kita merawat di puskesmas. Harus bisa apapun itu. Gimanapun dengan peralatan seadanya. Mereka takut mendengar penyakitnya lebih parah lagi. Buat pusing," kata Orin.

Hal inilah yang menurut Orin satu di antara bagian tersulit dalam menjalani profesinya di pedesaan. Yakni meyakinkan masyarakat bahwa ada penyakit yang perlu tindakan lebih serius oleh spesialis. Orin harus bekerja ekstra untuk mengubah pola pikir masyarakat ini.

Satu hal yang menurutnya sangat menyedihkan adalah kala masyarakat tidak menegakkan ASI eksklusif selama 6 bulan.

"Mereka pikir kalau bayi nangis pasti haus sehingga mereka merasa ASI tidak cukup. Akibatnya ditambah susu formula. Bahkan kadang bayi baru lahir sudah dikasih roti. Ya ampun miris melihatnya," ungkap Orin.

Kondisi-kondisi seperti inilah yang diakui Orin sebagai tantangan tersendiri. Sedikitpun ia tidak menyesali menjadi dokter di pedasaan. Jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.

"Harus banyak sabar. Beda di desa dan di kota. Yang penting pengalamannya. Gak akan dapat pengalaman seperti ini kalau di kota," tandasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved