Musim Kemarau
Dijual untuk Idul Adha, Ternak Sukardi Malah Kurus akibat Kemarau
Suparmin, peternak sapi di Tabir, terpaksa memberikan pakan yang kualitasnya tidak lagi baik
Penulis: Herupitra | Editor: Fifi Suryani
TRIBUNJAMBI.COM, BANGKO - Suparmin, peternak sapi di Tabir, terpaksa memberikan pakan yang kualitasnya tidak lagi baik untuk pertumbuhan ternaknya.
Bahkan, pakan yang diberikan untuk sekadar ternaknya tetap hidup. "Pakai rumput yang warnanya sudah kuning, sebelum diberi ke ternak dicampur air dulu, biar kadar airnya ada. Sebenarnya kualitasnya tidak bagus, beda dengan rumput-rumut yang masih hijau," ungkapnya.
"Ya, mau tidak mau. Kalau tidak diberi makan, ternak bisa mati. Biarlah pertumbuhannya terganggu yang penting masih tetap hidup," sambung Suparmin lagi.
Sementara itu membuat pakan buatan, dikatakan Suparmin, ia minim pengetahuan mengenai hal itu. Dan juga butuh biaya dan waktu untuk membuat pakan buatan untuk ternak.
"Ya, cuma dengar dari mulut ke mulut saja pakan buatan untuk ternak. Belum pernah coba, katanya biaya cukup besar juga," jelasnya.
Sementara itu Sukardi, peternak yang sengaja mempersiapkan sapinya untuk dijual jelang hari raya kurban, cemaskan pendapatannya menurun.
Hal ini disebabkan sapinya makin kurus karena kualitas pakan yang tak baik, selama kemarau ini.
"Kalau badannya gemuk, harganya tinggi. Tapi kalau kurus jelas harganya turun, sapi kurus juga sedikit yang mau beli," ucapnya.
"Rugi tidak, karena ternak sendiri. Cuma tidak sesuai dengan yang diharapkan. Mudah-mudahan hujan cepat turun dan rumput hijau lagi," tambah Sukardi.
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Merangin, Markoni, dikonfirmasi mengatakan, sejauh ini belum ada peternak melaporkan adanya sapi yang mati karena kemarau.
Namun, diakuinya kemarau panjang akan menyebabkan pertumbuhan ternak akan terganggu. Hal itu dipengaruhi kualitas pakan ternak yang juga tidak baik, terutama yang mengandalkan pakan rumput. Kondisi tersebut, menimpa ribuan peternak yang tersebar di seluruh Merangin. "Belum ada laporan, sapi mati atau sakit sejak kemarau ini.
Kalau penyakit ternak dimusim kemarau rasanya tidak ada juga," kata Markoni, Senin (31/8). "Yang jelas kualitas makan ternak yang tidak bagus, karena rumput bisa mati di musim kemarau. Itu bisa menyebabkan pertumbuhannya terganggu.
Seluruh Merangin mengalami hal serupa," ujarnya lagi.
Agar kondisi dan pertumbuhan ternak tidak terlalu menurun, dijelaskan Markoni, pihaknya akan mensosialisasikan agar peternak memberikan suplemen untuk ternaknya.
"Bantuan langsung dari dinas tidak ada, nanti melalui penyuluh kita beri pengetahuan, agar ternak diberi penambahan suplemen atau vitamin," tuntasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/03092015_sapi-kurus_20150903_121513.jpg)