Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci

Niti Mahligai, Perpaduan Seni dan Atraksi Menegangkan

Munculnya tarian ini, berawal dari ilmu beladiri yang diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang sejak ribuan tahun lalu

Niti Mahligai, Perpaduan Seni dan Atraksi Menegangkan
tribunjambi/hanif burhani
tarian Niti Mahligai dari Kerinci

Tarian ini tak hanya menunjukkan lemah gemulai gerakan anggota tubuh. Tapi juga ada atraksi yang mampu memacu adrenalin para penonton. Itulah Tari Niti Mahligai atau Tari Mahligai Kaco, satu diantara puluhan kesenian dan kebudayaan Kerinci. Tidak mengherankan, jika tarian ini selalu ditampilkan dalam acara-acara besar di Kabupaten Kerinci, bahkan di Provinsi Jambi, termasuk dalam pegelaran Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci (FMPDK), yang digelar hari ini Kamis (30/7) hingga Agustus mendatang.

Atraksi kebatinan yang di pertontonkan misalkan ketika seorang penari perempuan tiba-tiba saja dilempar tombak. Jangankan bisa menembus tubuh perempuan tersebut, justru tombak malah patah.

Sebelum memasuki arena, biasanya seorang hulubalang (Panglima) yang membawa api kemenyan langsung memberikan penghormatan kepada penonton, yang diikuti dengan atraksi pencak silat, dengan menggunakan pedang.

Usai penampilan atrasi pencak silat tersebut, penari perempuan akan memasuki arena. Menariknya, penari-penari tersebut harus menginjak pecahan kaca yang sangat tajam tanpa menggunakan alas kaki.

Aksi selanjutnya adalah menginjak butiran telur mentah yang diletakkan diatas mangkok. Aksi ini membuktikan bahwa saat menari mereka mampu menghilangkan berat tubuh mereka sehingga telurpun tidak pecah saat diinjak.

Pembuktian meringankan tubuh kembali berlanjut. Pembuktian tersebut dilakukan dengan mengangkat sang penari hanya dengan selembar kertas tipis. Sebelumnya penari akan duduk diatas selembar kertas, yang nantinya akan diangkat oleh pembantu. Hal yang tidak masuk akalpun kembali terlihat, kertas yang tipis tersebut ternyata mampu menahan berat badan penari.

Atraksi lain yang bisa dilihat adalah para penari berlenggak-lenggok diatas ratusan mata paku, serta bambu yang sudah diruncingkan. Secara logika, jelas kaki sang penari akan dipenuhi dengan luka. Namun ternyata tidak, penari juga tidak mendapat luka sedikitpun..

Pertunjukan tidak hanya sampai disitu saja, penari lantas berjalan diatas mata pedang yang sudah diasah tajam. Konon katanya, pedang tersebut harus diasah selama seharian agar lebih tajam, jika tidak penari bisa cidera.

Usai berjalan diatas pedang, penari akan dihujam dengan beberapa buah tombak. Atraksi menghujamkan tombak ke badan penari, baru akan berhenti setelah tangkai tobak-tobak tersebut patah. Atraksi ini kembali membuktikan bahwa sang penari memiliki ilmu kekebalan tubuh yang sangat luar biasa.

Banyak orang yang hanya tahan dengan besi saja, namun tiga orang penari akan membuktikan mereka mampu bertahan dari benda tajam jenis apapun, termasuk kayu dan bambu. Sebagai penutup, sang penari akan diangkat kedalam api yang sedang membara, dan pakaian dan kulit penari tidak terbakar sedikitpun.

Halaman
12
Penulis: edijanuar
Editor: deddy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved