Ini Alasan mengapa Wisuda Unja Harus Khatam Quran

Universitas Jambi mengeluarkan kebijakan terkait syarat wisuda yang baru. Syarat itu adalah diwajibkannya

Ini Alasan mengapa Wisuda Unja Harus Khatam Quran
rumaysho
Ilustrasi 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Universitas Jambi mengeluarkan kebijakan terkait syarat wisuda yang baru. Syarat itu adalah diwajibkannya setiap mahasiswa Unja yang akan mengikuti wisuda sarjana dan diploma Unja untuk menunjukkan kemampuan basis agama dengan melampirkan surat Khatam Alquran bagi yang beragam muslim. Dan yang beragama Kristen diwajibkan naik sidi, agama khatolik diwajibkan sakramen penguatan dan agama lainnya disesuaikan.

Peraturan ini tertuang dalam SK Rektor Nomor 467/UN21/KM/2015. Keputusan tersebut mulai diberlakukan kepada wisuda sarjana dan diploma semester ganjil tahun akademik 2015/2016.

Menurut Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Aprizal Lukman, peraturan ini bertujuan untuk memperbaiki moral mahasiswa, khususnya mahasiswa Unja agar lebih baik. Dengan landasan, selama ini banyaknya
kasus kriminalitas yang terjadi di masyarakat akibatnya lemahnya
moral.

“Sekarang kan banyak pergaulan bebas, kekerasan, dan sebagainya. Itu semua karena kurangnya pemahaman terhadap agama,” katanya, kemarin di gedung Rektorat Unja Kampus Mendalo.

“Jadi saya berpikir ada baiknya, melakukan sebuah langkah besar, kalau dia Islam harus khatam Alquran, kalau protestan diwajibkan naik Sidi. Ini adalah peraturan agar anak bangsa lebih bagus pola pemahamannya terhadap moral lebih baik,” tuturnya.

“Jadi nanti jika agamanya sudah baik, maka dia (mahasiswa,red) akan menjadi pemimpin yang baik,” jelasnya.

Dikatakannya, peraturan ini sudah di sosialisasikan kepada mahasiswa sejak satu setengah tahun yang lalu, melalui masing-masing fakultas.

Dan Aprizal mengklaim bahwa peraturan ini disambut baik oleh seluruh kalangan kampus Unja, tidak terkecuali mahasiswa.

“Ini SK nya sudah keluar satu setengah tahun yang lalu dan kami sudah menyediakan Masjid Assalam untuk yang Islam dibimbing belajar membaca Alquran dari awal dan untuk agama lain juga kami sediakan,” tuturnya.

“Semoga ke depan tidak ada lagi kita dengar kekerasan, narkoba dan sebagainya, khususnya dari kalangan mahasiswa kita (UNJA,red),” jelasnya.

Peraturan ini menurutnya tidak termasuk pemaksaan, namun upaya mengajak mahasiswa untuk tahu agamanya. Jikalau mahasiswa sudah pernah khatam sebelumnya, maka ia bisa saja bilang dan tim dari dosen-dosen agama Unja akan menguji.

“Diuji tiga atau empat ayat, kemudian jika lolos doberi sertifikat. Atau jika agak susah ada
pertimbangan-pertimbangan lain,” katanya.

Ia menolak untuk dikatakan ini menghambat mahasiswa, sebab ini menurutnya seperti yang dikatakan Rasulullah. “Ubahlah adabnya sekalian,” ungkapnya mengulangi hadis.

“Kalau dibilang menghambat bisa saja. Kalau dibilang menghambat berarti dia tidak mengerti yang namanya membina bangsa dan membina kemanusiaan, itu kan nilai kemanusiaan yang kita ajarkan itu, kalau dibilang dia tidak tau muskil sekali, itu suah diberikan ke setiap fakultas, dan semua wakil dekan diberi tahukan semua dan kita mengimbau BEM kita sediakan tempat dalam konteks,” katanya.

“Seorang sarjana harus mengerti ilmu dan agama,” tambahnya.

Penulis: Jaka Hendra Baittri
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved