Rabu, 22 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Berharap MEA tak Menyingkirkan Fotografer asal Indonesia

Belum adanya sertifikasi bagi fotografer, menjadi kendala bagi pemangku profesi ini ketika menjalani jobnya di lapangan,

Penulis: Jaka Hendra Baittri | Editor: Fifi Suryani

TRIBUNJAMBI.COM - Belum adanya sertifikasi bagi fotografer, menjadi kendala bagi pemangku profesi ini ketika menjalani jobnya di lapangan, terutama di luar negeri.

Hendi Fresco contohnya, Fotografer asal Jambi yang menjadi penilai pada Sosialisasi dan Simulasi Pre Tes Kompetensi Fotografi di Taman Budaya Jambi, Selasa (2/6).  Ia mengaku, sudah sering kerjasama dengan orang di Malaysia, namun suatu ketika ia menghadapi masalah saat dikontrak untuk jadi fotografer wedding kliennya di Malaysia. Ia dimintai sertifikat dengan polisi diraja ketika mengecek pasport.

Mereka tak mengerti lantas memberikan undangan perkawinan kliennya. Polisi pun bingung. Namun hal tersebut bisa diatasi, ia dan kengkawannya mengaku bahwa mereka menolong keluarga mereka yang ada di sana dalam acara perkawinannya. Lantas mereka pun lepas dari jerat polisi diraja Malaysia.

Dari pengalaman pribadi ini, Hendi merasa penting bagi fotografer di Indonesia mempunyai sertifikasi dalam profesinya.  Permasalahan inilah yang kemudian membuatnya setuju dengan adanya Asosiasi Profesi Fotografer Indonesia (APFI).

“Di Jambi cuma aku yang terdaftar di Kemendiknas, jadi dipanggil mewakili,” katanya, Selasa (2/6).

 APFI yang tengah mengadakan sosialisasi dan simulasi pre tes kompetensi fotografi di Taman Budaya Jambi (TBJ) diikuti 20 peserta.  Selain Hendi juga ada Ade dari Sumatera Selatan sebagai penilai.

 Waktu ia dipanggil Kemendiknas, ia bersama kawan seprofesinya yang lain dari provinsi lain ikut berkumpul dengan tujuan membuat kurikulum SKKNI atau Standar Kompetensi Kinerja Nasional Indonesia.

“Ibarat produk itu ada SNI-nya,” katanya. Agustus 2014 lalu Jambi mulai melantik Pengurus Daerah (Pengda)-nya.

“Sekarang ada pengurus cabang juga dari Kota Jambi, Batanghari, Muaro Tebo, Merangin, Saroangun, Bungo dan Kerinci,” katanya.

Ia ingin organisasi ini dapat mewadahi kawan-kawan fotografer yang mempunyai kompetensi namun belum belum bisa mengukur kemampuan, atau bisa mempunyai sertifikat kompetensi fotografi ini.

“Jambi sendiri ternyata yang pertama mengadakan pelatihan, seharusnya Bandung duluan,” kata Ade.

Pemateri berharap juga agar nantinya pekerjaan fotografi di Indonesia tidak diambil jatahnya ketika Indonesia memulai Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

“Fotografer kita banyak yang bagus, rata dan standarnya bagus semua, nggak kalah dengan fotografer luar,” kata Ade.

Ade pun menyinggung salah satu kaver album Fort Minor yang dikerjakan oleh fotografer asal Indonesia. “Standar kompetensi kita awalnya juga diejek sama negara tetangga karena mereka sudah mempersiapkannya dari
awal tahun 2000. Namun ketika mereka lihat standar kompetensi kita, mereka langsung membenahi standar kkompetensi mereka,” ungkapnya.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved