Sudah Punya Batu Akik Australia? Ini Dia

Bahkan, Kota Coober Pedy disana didirikan setelah penemuan batu opal oleh Willie Hutchinson 100 tahun lalu.

Editor: Deddy Rachmawan
BBC Indonesia
opal australia 

TRIBUNJAMBI.COM - Bukan Indonesia saja yang kaya akan batu akik. Tapi, negeri Kangguru tak kalah punya koleksi yang menawan.Bahkan, Kota Coober Pedy disana didirikan setelah penemuan batu opal oleh Willie Hutchinson 100 tahun lalu.

Alkisah 100 tahun lalu, seorang remaja bernama Willie Hutchinson secara tidak sengaja menemukan beberapa bongkah batu akik jenis opal saat berjalan di kawasan pedalaman Australia selatan.

Bersama ayahnya, Hutchinson sejatinya mencari tambang emas. Namun, temuan batu tersebut membuka gairah penambangan opal secara massal yang berujung pada pendirian Coober Pedy, sebuah kota sejauh 846 kilometer arah utara Adelaide.

Saat ini, warga Coober Pedy dengan bangga menyebut tempat tinggal mereka sebagai ‘ibu kota opal dunia’. Maklum, kontribusi opal dari Australia disebut-sebut mencapai lebih dari 80% produksi opal di seluruh dunia.

Batu opal khas Coober Pedy memang khas. Warnanya yang putih kemilau, bahkan ada yang warna-warni seperti pelangi, membuat batu produksi kota itu mendapat predikat ‘Batu Mulia Nasional’.

Meski demikian, warga ‘Negeri Kanguru’ tidak puas dengan predikat tersebut. Mereka ingin agar batu opal Coober Pedy diakui dunia sebagai Sumber Batu Warisan Dunia (GHSR).

Status itu diciptakan sekelompok pakar geologi dunia yang berniat mengategorikan dan mendefinisikan batu-batu tertentu di dunia yang memiliki makna khusus dalam budaya manusia.

Dengan status tersebut, profesi seperti arsitek dan perawat bangunan tua akan terbantu karena mereka bisa memakai materi yang sudah diketahui kekuatan dan karakteristiknya.

Contoh batu yang sedang diteliti kelayakannya untuk status GHSR ialah batu Portland, batu bangunan yang ditambang khusus di Dorset di pesisir selatan Inggris.

Lainnya adalah batu marmer yang berasal dari daerah Tuscany di Italia.

Dalam kasus batu opal dari Coober Pedy, sejumlah ahli menilai batu tersebut terlalu banyak ‘diolah’ dan tidak alamiah.

Lebih lanjut, batu opal dari kota tersebut memiliki beragam bentuk dan warna sehingga sangat sulit untuk menempatkannya dalam kategori yang sangat spesifik.

Di sisi lain, pakar geologi dari Australia menepis kritik tersebut. Salah satunya ialah Barry Cooper, yang menjabat sebagai sekretaris Kelompok Kerja Batu Pusaka dari Persatuan Ilmuwan Geologi Internasional.

”Di mana batasannya (batu yang terlalu banyak diolah dan yang tidak)? Saya berpendapat justru batu seperti permata dan safir terlalu banyak mendapat olahan. Namun, batu seperti opal tidak hanya bisa menjadi batu perhiasan, tapi juga seni mosaik dan pahatan. Itu yang membuat batu opal memiliki makna budaya yang lebih dalam,” kata Cooper.

Kontribusi opal dari Australia disebut-sebut mencapai lebih dari 80% produksi opal di seluruh dunia. Cooper kemudian merujuk proses alam yang menciptakan kekhasan pada batu opal dari Coober Pedy.(BBC Indonesia)

Tags
Batu Akik
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved