Breaking News:

Kasus Asusila

Alami Perdarahan Akibat Disodomi, Bocah S Akhirnya Meninggal

"Mama papa Tuhan Yesus sudah datang. Mama mama aku sudah mau naik. Tapi pintunya belum di buka.

Alami Perdarahan Akibat Disodomi, Bocah S Akhirnya Meninggal
TRIBUNMANADO/FINNEKE WOLAJAN
Ilustrasi

Laporan Wartawan Bangka Pos, Anthoni

TRIBUNJAMBI.COM, BANGKA -- "Mama papa Tuhan Yesus sudah datang. Mama mama aku sudah mau naik. Tapi pintunya belum di buka. Tolong ma pa buka pintunya. Ma jangan maksa aku untuk maafin om Nn karena dia telah bikin aku sakit," kenang S meniru ucapan terakhir putranya FN (14) sebelum tutup usia.

Selain itu mendiang FN juga minta supaya tubuhnya dimandikan oleh sang mama sebelum ia pergi untuk selamnya.
Bocah yang mengidap Tunagrahita itu menghembuskan nafas terakhir setelah mengalami pendarahan pada bagian anusnya di RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang, Selasa (7/4/2015) pekan lalu. Jenazah FN dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kristen di jalan Soekarno Hatta.

Sebelumnya bocah yang sempat mengenyam pendidikan di Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC) itu menjadi korban sodomi tetangganya berinisial NN. Kasus sodomi itu kemudian dilaporkan Susilawati ke unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Pangkalpinang pada awal Maret 2014 silam.

S dan suaminya Ew terlihat tegar ketika bangkapos.com menyambangi kediamannya di kawasan Kecamatan Pangkalbalam, Selasa (14/4/2015) siang.

Sambil dibayangi binar-binar kesedihan, S berbagi cerita semasa hidup putra sulungnya hingga tutup usia. FN lahir dan dibesarkan di Jakarta. Kerasnya kehidupan di ibukota itu membuat Ew memutuskan untuk kembali ke Pangkalpinang. Baru tiga tahun keluarga kecil itu berdomisili di Pangkalpinang.

"Baru tiga tahun ini kami di Bangka. Sebelumnya di Jakarta dan Bekasi. Karena Jakarta rawan makanya kami balik ke sini. Eh ternyata di Bangka sama saja," ujar Ew.

Sementara itu S mengaku pendarahan pada anus FN terjadi pascaputra sulungnya itu di sodomi Nn. Pendarahan biasanya terjadi saat emosional FN meningkat. Kian hari berat badan bocah periang ini menurun drastis.

Namun pasangan yang menikah tahun 1997 silam itu terus berusaha agar putra mereka sembuh dari penyakit yang ia alami. Hampir tiap pekan S mengontrol kesehatan putranya ke rumah sakit atau puskesmas terdekat. Hemoglobin darah S terus menurun yang membuatnya harus mentranfusi darah sebanyak lima kantong.

Namun nasib berkata. Meski berbagai upaya telah dilakukan pihak keluarga namun nyawa samuel tidaak bisa tertolong.
" Pendarahan itu terjadi sejak kasus itu menimpa anak saya. Kalau emosinya lagi muncak pasti anusnya berdarah. Badannya pun semakin kurus," ujar wanita yang akrab di sapa maknyak itu.

Walaupun berat, namun S dan Ew kini telah mengikhlaskan kepergian anaknya. Baginya semua ini sudah takdir tuhan. Yang ada di benak pikiran S saat ini anaknya sudah tenang di surga. Selain itu, Saat ini tersangka Nn pun telah di vonis enam tahun penjara oleh majelis hakim.

Untuk mengenang kepergiam Samuel, kemarin keluarga besar menggelar penghiburan dari gereja kristen perjanjian baru masa depan cerah kota Pangkalpinang.

"Saya tidak menuntut apa-apa. Saya ikhlas anak saya sudah tenang di surga. Selain itu tersangka pun sudah menjalani hukuman," pungkasnya.

Editor: Fifi Suryani
Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved