Rabu, 8 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Pilkada Tanjabbar

Jafar Ahmad : Faktor Sosiologis Mudah Dimainkan

Disampaikan, secara teoritik, orang akan mendukung atau tidak mendukung berdasarkan beberapa faktor, dapat dilihat menggunakan teori perilaku memilih.

Penulis: Awang Azhari | Editor: Deddy Rachmawan

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Awang Azhari

TRIBUNJAMBI.COM, KUALA TUNGKAL - Langkah beberapa partai besar untuk menggiring Pilkada Tanjab Barat agar tercipta dua pasang calon yang mempresentasekan wilayah Ulu dan Ilir, disebut-sebut memiliki dasar pada realita wilayah dan pengalaman, jika head to head, peluang paling besar adalah calon dari wilayah Ilir.

Lalu bagaimana pengamat politik Jahfar Ahmad menganalisanya? Disampaikan, secara teoritik, orang akan mendukung atau tidak mendukung berdasarkan beberapa faktor, dapat dilihat menggunakan teori perilaku memilih.

Teori perilaku memilih ini ada tiga dengan tingkatan yang berbeda-beda. Pertama karena faktor sosiologis, ini yang paling mudah dipengaruhi, pemilih dengan faktor sosiologis biasanya akan melihat calon itu orang mana, di Tanjab Barat mungkin yang dilihat dia dari Ilir atau dari Ulu.

Kemudian dia suku apa, dia Bugis Jawa atau apa, itu karena ikatan sosiologis. Ikatan priomordial atau sosial ini sangat besar memberi pengaruh dalam proses pemilihan yang dilakukan secara langsung.

Yang kedua, teori perilaku memilih itu didasarkan faktor sikologis, pemilih itu merasa senang saja dengan tokoh tersebut, ini karena faktor interaksi, bisa jadi tokoh itu mirip ayahnya, mirip idolanya dan mereka tak mempermasalahkan asalnya dari mana. "Tapi pemilih dengan faktor sikologis ini tidak banyak," kata Jafar.

Kemudian yang ke tiga, pemilih didasarkan kedekatan rasional. Mereka akan memilih karena merasa ada keuntungan yang bisa diambil dari calon tersebut, tipe pemilih seperti ini tidak mempersoalkan calon itu dari Ilir atau dari Ulu atau apapun sukunya.

"Misal keuntungannya aku akan dapat pekerjaan, akan dapat jabatan atau akan dapat pemasukan ekonomi. Ini pemilih rasional atau tepat disebut pragmatis, secara hitung-hitungan politik kekuatan pemilih dengan faktor kedekatan rasional ini sangat kecil dan sedikit, mereka memang sangat dekat dengan calon yang didukung,".

Berbeda dengan pemilih karena faktor sosiologis seperti wilayah atau daerah, dia memang tidak kenal dekat dengan calonnya dan tidak lengket, tapi jumlahnya sangat besar dan mudah dimobilisasi. Kalau sudah menggunakan kata kita dan mereka, itu sudah sangat berbeda, atau dalam bahasa politiknya insider dan outsider (orang dalam dan orang luar). Orang dari wilayah A akan memandang calon dari wilayah A itu orang dalam, sementara calon dari wilayah B akan dianggap orang luar, begitu juga sebaliknya.

Jadi dalam pemilihan secara langsung, faktor sosiologis yang berhubungan dengan wilayah, daerah, suku termasuk agama dan faktor sosiologis lainnya ‎akan sangat mempengaruhi dalam proses pemilihan.

Jika dilihat dari analisa Jafar Ahmad, terungkap bahwa partai-partai yang sekarang akan menciptakan hanya ada dua pasang calon di Pilkada, ingin mengambil peluang untuk merangkul pemilih dengan faktor sosiologis, karena jika dipresentasekan, jumlah DPT di Ilir jauh lebih tinggi dibanding Ulu.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved