Penjualan Satwa Dilindungi
Pelaku Manfaatkan Konflik Satwa
Akhir-akhir ini perdagangan satwa liar di Jambi terlihat meningkat. Menurut Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Jambi, Sahron hal itu dipicu akibat kuatnya
Penulis: Teguh Suprayitno | Editor: Fifi Suryani
Laporan Wartawan Tribun Jambi, Teguh Suprayitno
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Akhir-akhir ini perdagangan satwa liar di Jambi terlihat meningkat. Menurut Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Jambi, Sahron hal itu dipicu akibat kuatnya perambahan dan alih fungsi hutan di Jambi. Akibatnya muncul banyak konflik antara satwa dengan masyarakat. Kondisi itu kata Sahron dimanfaatkan para mafia perdagangan satwa untuk melakukan penangkapan.
“Jadi karena alasan terjadi konflik terus banyak yang pasang jerat. Nanti kalau dapat mereka jual. Itu modusnya,” katanya saat dihubungi lewat telepon, Minggu (15/3).
Daerah Kerinci, Mengarin, Tebo, dan Sarolangun menurut Sahron menjadi lokasi rawan konflik. Sehingga tak jarang bila kasus perdagangan satwa cukup banyak ditemukan di sana.
Hingga saat ini, kasus perdagangan kulit harimau masih mendominasi kasus penjualan satwa dilindungi. Harganya yang tinggi dan minat pasar yang kuat ditenggarai maraknya perburuan dan perdagangan kulit harimau. Untuk itu kata Sahron, pihaknya telah menyiasati dengan melakukan patroli secara tertutup.
“Kalau informasinya A1, baru kita terbuka,” katanya.
Sahron juga mengatakan sejak 2011-2015, sedikitnya ada empat kasus perdagangan satwa liar yang berhasil diungkap BKSDA Jambi. Beberapa kasus perdagangan satawa lainnya ditangani pihak kepolisian di Jambi.