Ekspedisi Kucing Emas Tribun Jambi

Goresan Cakar jadi Penyemangat Rombongan

Goresan ini diperkirakan dari kuku kucing liar. Iding memperkirakan sesuai analisisnya,

Goresan Cakar jadi Penyemangat Rombongan
TRIBUN JAMBI/EKO PRASETYO
Tim Peneliti dan Konservasi macan dahan saat memulai dan mengecek penelitian di Taman Nasional Bukit Seblat (TNKS). 

Kelelahan setelah melalui jalur yang cukup ekstrem tampaknya sedikit terbayar setelah ditemukannya tanda-tanda keberadaan kucing hutan yang dicari oleh tim. Persiapan pun dilakukan untuk melakukan penelitian di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Setelah sempat beberapa hari melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, Sabtu (7/3) rombongan peneliti dan konservasi macan dahan dari Wildlife Conservation and Research Unit (WildCRU) mendapat titik cerah. Saat itu rombongan menemukan cakaran pada batang pohon besar.

Tim sendiri kemudian membagi menjadi beberapa kelompok. Tim yang terdiri dari enam orang ditambah Tribun dan satu rekan media televisi swasta nasional, kemudian meninggalkan tim yang berjaga di camp.

Sebuah sungai dengan arus deras menghadang perjalanan. Rombongan pun kemudian mencoba menyusuri derasnya sungai. Bongkahan batu kali berukuran besar dimanfaatkan untuk pijakan menyeberang sungai tersebut.

Sekitar 2 km dari camp kedua yang berdiri di pinggir sungai. Tim ini menemukan goresan cakaran tersebut pada pohon besar setinggi kurang lebih 20 meter.

Masih diketuai oleh Iding Achmad Haidir, Karya Siswa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada WildCRU University of Oxford. Penemuan cakaran itu memberi semangat baru bagi peneliti di tim satu ini.

Goresan ini diperkirakan dari kuku kucing liar. Iding memperkirakan sesuai analisisnya, cakaran yang didapat merupakan kuku dari macan dahan yang menjadi satwa buruan dalam penelitian.

Memperkuat temuan goresan cakar merupakan milik dari kuku macan dahan, disampaikan iding dilihat dari tingginya posisi goresan yang mencapai tengah pohon, sekitar 5 meter keatas untuk dipanjat satwa yang masuk keluarga kucing liar ini.

Selain itu cakaran yang berbeda dengan kuku harimau Sumatera, berhasil diidentifikasi melalui panjang cakaran sampai dalamnya kuku yang menggores pohon tersebut.

Sesuai identifikasi cakaran dengan lebar 4,5 cm dan tinggi cakaran 1,6 cm, diperkirakan macan dahan tersebut memiliki lebar badan 25 cm dan panjang badan 70 cm.

"Bila dilihat goresan kuku di pohon ini diperkirakan sudah terjadi sekitar 2 minggu, dan kucing ini juga sepertinya membawa sebuah beban, bisa berupa mangsanya atau anaknya,"terang Iding.

Melihat pohon yang memiliki banyak goresan dari kuku kucing liar tersebut. Disampaikan Iding merupakan pohon yang memang disenangi oleh macan dahan.

Alasannya karena memiliki dahan horizontal, dan disekitar pohon juga dipenuhi dahan-dahan lebar yang memudahkan macan dahan yang memiliki beberapa kemiripan dengan spesies kucing purba ini menyeberang.

"Kebiasaan macan dahan mendapatkan mangsanya dan dibawa ke atas, yaitu menghindari persaingan dan kompetitor hewan lainnya, seperti anjing hutan yang memangsa secara berkelompok," papar Iding.

Sebenarnya, titik terang yang ditemukan peneliti diluar dari ekspektasi yang diharapkan. Karena jarak penemuan cakaran sangatlah jauh dari posisi kamera trap terdekat yang dipasang.

Cakaran ditemukan dari kamera trap terdekat yaitu dengan jarak 590 meter dari lokasi temuan. Jalur temuan cakaran merupakan jalur yang biasa dilewati manusia dan hewan lainnya. Sehingga kamera trap tidak terpasang di pohon tempat temuan cakaran.

"Kita menghindari pemasangan kamera di posisi temuan cakar ini karena, jalur ini merupakan jalur aktif untuk manusia yang masuk kawasan TNKS secara ilegal. Dan bila kita pasang disini bisa saja kamera trap kami rusak atau di ambil,"pungkasnya.

Namun bagi tim peneliti, walau tidak terdeteksi dengan kamera trap yang mereka pasang, cakaran itu sebagai petunjuk bahwa kehidupan macan dahan tidak jauh dari kamera trap terdekat yang mereka pasang.

Karena berdasarkan penelitian, macan dahan memiliki pergerakan di dalam homerange-nya mencapai 23 Km2 sampai dengan 40 Km2 (persegi).
Penelusuran pun kembali berlanjut dengan mendatangi kamera trap terdekat, yaitu kamera trap 81 dan 86 untuk mengetahui apakah kucing cantik tersebut masuk kedalam kamera pengintai milik WildCRU.

 (ekoprasetyo/bersambung)

Penulis: ekoprasetyo
Editor: deddy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved