Ekspedisi Kucing Emas Tribun Jambi

Jalur Ekstrem dan Sulitnya Temukan Jejak Kucing Dahan

Artinya jumlah populasi di alam kurang dari 10.000 ekor dan terus mengalami penurunan.

Jalur Ekstrem dan Sulitnya Temukan Jejak Kucing Dahan
TRIBUN JAMBI/EKO PRASETYO
Tim Peneliti dan Konservasi macan dahan saat memulai dan mengecek penelitian di Taman Nasional Bukit Seblat (TNKS). 

Sejak Minggu (1/3) hingga Selasa (10/3), Tribun Jambi mendapat kesempatan ikut dalam sebuah ekspedisi yang dilakukan oleh satu kelompok peneliti yang menamai dirinya Wild Conservation Resert Unit (Wildcru) di Kabupaten Kerinci dan Sungaipenuh untuk melihat populasi kucing dahan dan kucing emas.

Sebanyak 15 orang dari Wildcru, Tribun Jambi dan sebuah televisi swasta nasional melakukan perjalanan memasuki areal Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Diketuai oleh Iding Achmad Haidir selaku Karya Siswa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Wildcru University of Oxford, tim melakukan penelitian terhadap macan dahan yang ada di wilayah tersebut.

Penelitian yang dilakukan merupakan bentuk perhatian bagi populasi macan dahan, yang masuk ke dalam family Felidae atau jenis kucing liar dan kerabat lainnya yang memasuki tingkat Vulnerable. Artinya jumlah populasi di alam kurang dari 10.000 ekor dan terus mengalami penurunan.

"Statusnya sangat rentan, dimulai dari Asia Selatan sampai Asia Tenggara sebanyak 9.000 ekor yang hidup,"ujar Iding saat akan memulai penelitian.

-- LIKE FANPAGE Tribun Jambi   FOLLOW Twitter @tribunjambiku untuk UPDATE INFORMASI TERKINI --


Selain ingin mengetahui jumlah tren populasi, tujuan tim peneliti yang dilakukan oleh Wildcru, ialah pemberian informasi kepada masyarakat, dan bila lebih fokus, kenapa macan dahan yang menjadi fokus penelitian.

Iding juga menyebutkan, di Indonesia dari 33 jenis kucing populer, macan dahan tidak masuk kedalamnya. Sedangkan tingkat populasinya terus menurun dan rentan.

"Konsekuensi yang diharapkan melalui penelitian dan konservasi tim Wildcru kepada macan dahan, kegiatan ini menjadi pemahaman masyarakat dalam mengurangi pengawetan dan perburuan menuju ke tindakan perlindungan,"sebutnya.

Terbagi menjadi dua tim yang menyebar dalam melakukan penelitian. Proses kali ini, setiap tim mengambil hasil data yang didapat dari kamera pengintai (trap) yang tersebar di 144 titik dari pemasangan yang dilakukan sejak Juni tahun 2014.

Kamera trap sendiri merupakan alat utama dalam penelitian yang ditinggal di Area Hutan Kerinci, sesuai periode yang ditentukan. Dengan kemampuan kamera mampu mengambil gambar dengan mode foto dan video untuk hewan dan objek apa saja yang melintasi kamera tersebut.

Halaman
12
Penulis: ekoprasetyo
Editor: deddy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved