Asing Terus Membanjiri Pasar Keuangan RI

Keinginan Presiden Joko Widodo agar Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan atau BI rate bak pedang bermata dua.

Editor: Fifi Suryani

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Keinginan Presiden Joko Widodo agar Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan atau BI rate bak pedang bermata dua. Satu sisi, penurunan bunga acuan bisa melorotkan bunga kredit bank yang ujungnya bisa menggerakkan ekonomi.

Namun, di sisi lain, kebijakan menurunkan bunga acuan bisa mengancam keluarnya dana-dana asing dari pasar keuangan Indonesia. Apalagi, ada rencana Amerika Serikat (AS) menaikkan suku bunga.

Lana Soelistyaningsing, Ekonom Samuel Aset Management yakin, penurunan BI rate (lagi) tak akan membuat hot money lari dari pasar keuangan. "Pengaruhnya tak terasa," ujar dia, Kamis (26/2).

Penurunan BI rate bisa memberikan sinyal bahwa fundamental ekonomi Indonesia kian membaik. Ini harus dibuktikan dengan pengendalian inflasi serta pertumbuhan ekonomi.

Meski BI rate, sejak 17 Februari 2015 turun, aliran dana asing masih membanjir. Tak hanya di pasar saham, tapi juga di pasar obligasi. Di pasar saham, per 26 Februari, net buy asing mencapai Rp 1,244,19 triliun. Adapun di surat berharga negara (SBN) per 24 Februari tercatat Rp 507,02 triliun atau 40,06% dari total dana yang masuk SBN.

Catatan Kementerian Keuangan, pasca penurunan BI rate 17 Februari, asing justru masuk, hingga menguasai 39,79% atau setara Rp 498,84 triliun dari total dana di SBN.

Padahal, bila dihitung sejak awal tahun imbal hasil atau yield atas SBN terus menurun dari di atas 8% menjadi sekitar 7% tak juga menyurutkan asing. Lana yakin, penurunan BI rate lagi masih akan nyaman bagi investor asing. Bahkan, jika keputusan The Fed kelak menaikkan Fed rate diyakini tak akan banyak berakibat larinya dana asing.

Ekonom Bank Tabungan Negara (BTN) A. Prasetyantoko menghitung, investor asing masih akan menaruh dana di Indonesia, jika bunga acuan RI berselisih minimal 6% dari Fed rate. Dengan bunga AS kini masih 0%, penurunan BI rate lagi tak akan berpengaruh ke dana asing.

Apalagi, saat ini. pasar keuangan global sedang banjir likuiditas akibat kebijakan stimulus (quantitative easing) oleh Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) mulai Maret 2015 hingga akhir 2016 sebesar € 50 miliar per bulan.

Namun, Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai, penurunan BI rate kembali masih berisiko. Sebab, aliran dana asing sejak awal tahun hingga saat ini hanya berdasarkan sentimen semata. "Bukan karena perbaikan fundamental ekonomi," ujar David.

Sumber: Kontan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved