Kredit UMKM di Jambi Mengucur Pelan

Industri jasa keuangan, terutama perbankan, diminta mengoptimalkan kucuran kredit ke Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)

Kredit UMKM di Jambi Mengucur Pelan
TRIBUNJAMBI/KURNIA PRASTOWO ADI
Grand opening BNI Sentra Kredit Kecil Jambi, Rabu (23/10)

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI -  Industri jasa keuangan, terutama perbankan, diminta mengoptimalkan kucuran kredit ke Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan sektor produkstif lainnya.

Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jambi melihat perkembangan berdasarkan data yang diperoleh, jumlah UMKM di Provinsi Jambi sangat besar. Namun sebagian masih belum mendapatkan dukungan pembiayaan dari industri keuangan.
Ketua OJK Provinsi Jambi, Darwisman, mengakui sektor kredit mengalami pertumbuhan, tetapi belum optimal penyaluran kredit perbankan untuk pembiayaan sektor UMKM dan usaha produktif lainnya.
Dari total penyaluran kredit perbankan Rp 26 triliun, pangsa penyaluran kredit UMKM baru tercatat sebesar Rp 9,8 triliun atau 36,94 persen. Hal ini bisa juga disebabkan masih terbatasnya layanan industri keuangan dan terbatasnya akses UMKM terhadap industri keuangan.
"Kita mendorong industri jasa keuangan melihat berbagai potensi sektor usaha produkstif dan UMKM di luar Kota Jambi yang layak dibiayai," katanya pada acara finnacial executife gathering, Selasa (17/2) malam.
Sementara itu, laju pertumbuhan kredit konsumtif lebih cepat dibanding produktif. Kredit konsumtif sebesar 43,07 persen, diikuti kredit modal kerja 32,54 persen, dan kredit investasi 25,45 persen.
Untuk tahun ini, jelas Darwisman, perbankan perlu meningkatkan penyaluran kredit di sektor UMKM. Di sisi lain OJK Provinsi Jambi juga mendorong industri perbankan meningkatkan penghimpunan dana masyarakat melalui strategi program promosi yang efektif dan tepat sasaran.
Hal ini mengingat laju pertumbuhan penyaluran kredit lebih tinggi dari penghimpunan dana, atau terjadi gap Rp 4,2 triliun yang berdampak pada tingginya LDR perbankan, yakni tercatat 118,74 persen pada akhir 2014.
Terkait dengan itu industri jasa keuangan masih sangat butuh dukungan sumber dana dari pengusaha lokal, investor PMA maupun PMDN untuk menempatkan sebagian dana hasil usaha di perbankan. "Upaya tersebut diharapkan dapat mengatasi tekanan perbankan atas permasalahan likuiditas yang ketat akhir-akhir ini, yang pada akhirnya berdampak terhadap perbaikan rasio LDR," papar Ktua OJK.

Penulis: hendri dede
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved