Menyoal Makna Masyarakat Asli Jambi

DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia, Diaspora mempunyai arti masa tercerai berainya suatu bangsa tersebar di berbagai penjuru dunia.

Menyoal Makna Masyarakat Asli Jambi
dok Warsi
Suku Anak Dalam

TRIBUNJAMBI.COM - DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia, Diaspora mempunyai arti masa tercerai berainya suatu bangsa tersebar di berbagai penjuru dunia. Penyebaran tersebut meninggalkan jejak tersendiri di setiap tempat dan jejak inilah sedang diteliti para sarjana dari Malaysia yang pekan lalu menyambangi Jambi.

Mereka turut berdiskusi bersama KKI Warsi yang diwakili oleh Robert Aritonang, antropolog KKI Warsi dan dimoderatori oleh Adi Prasetijo juga antropolog Warsi. Robert mengatakan di Sumatera tersebar suku-suku yang tergolong terpinggirkan hidupnya baik secara akses informasi atau pun ekonomi. “Bahkan saat masuknya agama-agama besar di Indonesia pun tidak tersentuh,” kata Robert, Senin (10/2).

Robert pun menjelaskan lokasi tempat tinggal Talang Mamak dan Suku Anak Dalam di Jambi. Selain itu ada pula suku lain yang jumlahnya sangat kecil.

“Suku-suku kecil ini secara eksotik memang terisolasi di hulu sungai. Ketika masuk agama-agama besar mereka sulit tersentuh,” ucapnya.

Suku di daerah pesisir menurutnya lebih hierarkis sifatnya, sedangkan masyarakat yang lebih di dalam posisinya lebih cenderung independent dan banyak pergerakannya berkaitan dengan kawasan sungai.

Budayawan di Jambi Ja'far Rassuh mengatakan ada 7 sub etnis yang ada di Jambi. Mereka adalah Proto Melayu, Deutro Melayu, sub etnis penghulu di perbatasan Minang dan Jambi, Suku Pindah, Suku Rukit, orang laut di pesisir Timur dan orang nilau di Nipah. Meski pun begitu, Adi Prasetijo mengatakan adanya temuan goa harimau yang membuktikan adanya peradaban yang lebih tua. Meski pun begitu hal tersebut tak terlalu dibahas.

Tak ketinggalan Jumardi Putra dari Seloko Institute mengatakan bahwa kolonialisme turut andil dalam perubahan peradaban masyarakat asli ini. Ia mengemukakan kembali pertanyaan apa itu identitas dan untuk siapa definisi identitas itu sendiri. “Hegel pernah membuat satu definisi soal identitas yang menurut saya cukup baik. Bahwa identitas sebagai identitas atas identitas dan perbedaan,” ujarnya.

“Saya kaitkan dengan konteks masyarakat asli, gerakan masyarakat adat nusantara juga masih problematis, mereka punya sistim tradisi ritual yang saya kira hari ini mulai cari, kita susah mendefinisikan asli dan tidak asli, dalam konteks studi lainnya seperti soal orang rimba. Orang rimba sudah banyak diteliti, tentang Jambi mungkin ini lebih dominan. Ketika kita bicara etnsi tionghoa justru lebih banyak soal orang rimba, tapi pada kenyatananya pada konteks masyarakat asli dalam praktek kenyataannya tidak seindah yang diceritakan,” tuturnya.

Suku tersebut menurutnya malah menjadi bagian objek tertindas atau subordinasi dari definisi kita atas kemajuan.”Ada benang merah di sini bahwa sesungguhnya gerakan kembali ke masyarakat asli itu mewakili siapa,” katanya.

Sejarah yang panjang dan diaspora yang mencatat hubungan Jambi dengan praktek budaya yang cukup tua itu tidak dapat menjadi titik pijak kuat, untuk menjadi identitas sendiri. "Saya sepakat tidak menjadikan melayu menjadi politik budaya golongan tertentu seperti di Malaysia dan Riau yang melekatkan Melayu pada Islam. Sebab di Jambi menurutnya aroma itu tidak begitu kencang dan cenderung sifatnya terbuka. Tapi keterbukaan ini membingungkan mau dibawa kemana, seringkali malah berujung pada suatu kondisi yang banyak merugikan ketimbang pada penguatan identitas itu sendiri,” ungkapnya.

Ia juga menyinggung bagaimana Undang-undang nomor 5 tahun 1975 tentang pemerintah desa menabrak apa yang disebut masyarakat asli, “Semua pranata yang merepresentasikan atau mewakili mereka hilang serta merta karena undang-undang tersebut,” katanya.

Fatan Hamamah Yahaya, seorang Doktor dari Pusat Pengajian Pendidikan Jarak Jauh Universiti Sains Malaysia mengatakan di Malaysia pun ada suku-suku laut tersebut. Pemerintah Malaysia katanya memberikan uang untuk mereka bersekolah dan memanfaatkan uang tersebut dengan baik, meski pun kadang uang tersebut segera habis, katanya sembari tertawa.

Karena saya antropolog, kita bisa membuat kategorisasi tepat di Jambi juga dengan teman-teman di Indonesia. “Kita mencari satu ruang mantap untuk menghasilkan satu riset buat golongan indigenous people yang terpinggirkan.” tandasnya.

Golongan yang membuat dasar atau dalam bahasanya adalah pemerintah membuat dasar hukum, menurutnnya perlu kajian-kajian ini. Tidak menutup kemungkinan juga untuk sarjana dari bidang lain.

Fatan tak hanya berkeliling Jambi, ia juga ke Kerinci dan Padang, akhirnya Sabtu (14/2) lalu ia kembali ke Malaysia. Banyak hal yang dibawanya dari diskusi di tiga tempat ini. Ketika di Kerinci, Fatan dan timnya berdiskusi tentang budaya Kerinci, adat istiadat kerinci kemudian pengetahuan tentang temuan arkeologis di Kerinci.

Penulis: Jaka Hendra Baittri
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved