Raskin

Penerima Raskin Masih Data Lama

Pemerintah Kota Jambi melakukan validasi terhadap penerima beras miskin (raskin) 2015. Saat ini masih dalam proses inventarisir.

Penulis: rida | Editor: Fifi Suryani

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Pemerintah Kota Jambi melakukan validasi terhadap penerima beras miskin (raskin) 2015. Saat ini masih dalam proses inventarisir. Para Lurah sedang mengumpulkan para rukun tetangga (RT). Sejauh ini baru satu kelurahan yang sudah mengumpulkan RT yaitu Kelurahan Telanaipura, yang lain belum.

Camat Telanaipura Noviarman Kamis (12/2) mengatakan hasil sementara menunjukan penerima raskin masih data lama. Belum ada perubahan signifikan data penerima. "Sebenarnya keinginan masyarakat, para RT, penerima raskin bertambah cuma sudah diplot dari pusat tidak ada perubahan jadi seperti data lama mereka bersyukur," ungkapNoviarman.
Kabid Pelayanan Publik Bulog Jambi David Santoso mengatakan raskin yang disalurkan adalah kualitas medium. Ia memastikan raskin tersebut layak dikonsumsi. "Tidak mungkin bulog memberikan yang tidak layak konsumsi," jelas David.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kota Jambi Raden Erwansyah mengatakan penerima raskin pada 2015 sama dengan penerima pada 2014. Harga raskin pun masih sama Rp 1.600 perkg dengan masing-masing Rumah Tangga Miskin (RTM) menerima 15 kilogram. Meski jumlah penerima raskin tidak mengalami perubahan, pemkot minta camat dan lurah untuk memverifikasi ulang penerima raskin sehingga penyaluran raskin 2015 tepat sasaran.
"Kita masih menggunakan data lama. Cuma ada pedoman yang baru itu di akhir Februari ini, silakan masyarakat bermusyawarah, diketahui lurah, untuk mengadakan perubahan sesuai dengan data riil di lapangan," ungkapnya. Perubahan data penerima raskin ini misalnya terjadi jika ada penerima yang sudah meninggal dunia. Penggantinya, dimusyawarahkan oleh warga dengan diketahui lurah.
Adapun jumlah penerima raskin Kota Jambi sebanyak 26 ribu RTM. Sementara itu mewanti agar harga raskin yang diterima RTM sesuai ketetapan, pemkot minta masyarakat untuk menjemput sendiri haknya di kelurahan tanpa diwakilkan atau dititip orang lain.
"Kita mengharapkan agar masyarakat ambil sendiri tidak usah melalui perantara. Jadi tidak ada lagi uang gerobak, uang ojek yang membuat raskin dihargai lebih mahal," tegas Erwansyah.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved