Kolektor Batu Akik Ingin Berburu ke Muara Emat, Ini yang Harus Disiapkan
Minggu (1/2) kemarin, Tribunjambi.com mencoba menelusuri jalur pencarian batu akik di Muara Emat, Kerinci
Penulis: edijanuar | Editor: Nani Rachmaini
Laporan Wartawan Tribun Jambi, Edi Januar
TRIBUNJAMBI.COM, KERINCI - Minggu (1/2) kemarin, Tribunjambi.com mencoba menelusuri jalur pencarian batu akik di Muara Emat, Kerinci, yang selama ini terkenal dengan lumut kerinci, pirus, badar emas, badar besi, badar panca warna, dan berbagai jenis batu akik lainnya.
Kolektor pun berburu batu akik ke wilayah ini. Dari Kota Sungaipenuh, Desa Muara Emat bisa ditempuh dengan menggunakan mobil atau sepeda motor selama dua jam perjalanan. Desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Batang Merangin ini, masyarakatnya mayoritas hidup sebagai petani ladang.
Sebelum memulai pencarian, ada beberapa hal yang perlu diingat. Pencari batu di Muara Emat, wajib membawa martil atau palu dari besi ukuran besar. Ini karena tingkat kekerasan batu di Muara Emat sangat keras, singga tidak bisa dipecahkan dengan alat pemukul ukuran kecil.
Selain itu, pencari batu juga wajib membawa karung dan tali, jika ingin mendapatkan batu akik ukuran besar. Pasalnya, untuk mengangkat batu dari sungai dan membawanya naik ke jalan, membutuhkan wadah (Karung.red) dan tali yang kuat. Jika tidak, maka jangan berharap dapat batu akik ukuran besar.
Minggu kemarin itu, salah satu anggota rombongan berhasil menemukan sebuah bongkahan Lumut Kerinci seberat 200 kilo. Setelah larut dengan kegembiraan, rombongan baru menyadari akan menemui kesulitan. Pasalnya, palu yang dibawa tidak sanggup memecah batu. Sementara untuk mengangkatnya, juga tidak ada perlengkapan yang memadai.
Namun dengan semangat dan keinginan yang besar, setelah istirahat makan siang, batu lumut raksasa tersebut mulai mencoba diangkat, dengan menggunakan tali akar, serta pelepah pohon pinang. Dengan kerja keras, akhirnya dalam waktu dua jam, batu akik tersebut berhasil diangkat ke mobil. (edijanuar)