58 Tahun Provinsi Jambi

Zulkifli Nurdin, Angkat Sawit Panglima Ekonomi

DARAH saudagar Zulkifli Nurdin (67) ayah Zumi Zola kental terasa sewaktu menakhodai Provinsi Jambi (1999- 2010)

Zulkifli Nurdin, Angkat Sawit Panglima Ekonomi
ist
Zulkifli Nurdin

DARAH saudagar Zulkifli Nurdin (67) kental terasa sewaktu menakhodai Provinsi Jambi (1999- 2010). Dia menjadikan potensi perkebunan menjadi panglima ekonomi, dengan menggenjot pembukaan jutaan hektare lahan sawit agar terbuka lapangan pekerjaan. Selebihnya, dia memimpikan hadirnya industri hilir sebagai keunggulan komparatif sawit Jambi.
Lahir sebagai sulung pasangan Nurdin Hamzah dan Nurhasanah, 12 Juli 1948 di Muara Sabak, Tanjab Timur, Zulkifli sejak kecil mewarisi bakat usaha orangtuanya. Apalagi sang ayah dikenal sebagai pengusaha terpandang di Jambi, dengan jangkauan usaha hingga ke Malaysia-Singapura.
Nurdin Hamzah mengawali biduk usahanya dengan firma dagang Nurdin Hamzah, selanjutnya menjadi perseroan terbatas Nurdin Hamzah.
Perlahan kepiawaian bisnis menjadikan Nurdin Hamzah pengusaha sukses, serta usaha terigu dan gula melentingkan nama ayah Zulkifli sebagai tujuh pengusaha terkemuka di Jambi. Masa kecil Zulkifli seperti anak Muara Sabak lainnya. Siang hari bermain, kadang memancing ke sungai mengail ikan, dilanjut berenang di tepian sungai.
Usia lima tahun, dia telah khatam Alquran. Dia lanjut ke sekolah rakyat, di sini kecerdasan Zulkifli menonjol. Dia sering diminta teman sekolahnya memecahkan pekerjaan rumah, dan selalu memiliki inisiatif mengatasi persoalan itu. Di organisasi sekolah, Zulkifli biasa dipanggil keluarga besarnya Si Lung, selalu menjadi ketua.
Si Lung kerap terpilih mewakili sekolah di bidang olahraga dan kesenian. Dari Sabak, Zulkifli lanjut sekolah ke Sekolah Rakyat Taman Budaya Jambi. Melihat bakat putra sulungnya, Nurdin mulai menggemblengnya. Zul disiapkan sebagai pewaris usaha keluarga. Sang ayah menugaskan Zul mengembangkan usaha ke Padang, Palembang, Surabaya hingga luar negeri.
Zul lantas membekali diri dengan berkuliah di FE UI, lulus sarjana muda 1970 dan sarjana penuh di FE Untag, Surabaya. Sang ayah menunjukkan sebagai kepala cabang PT Nurdin Hamzah di sana.
Namun sejatinya, Zul mengawali karier seperti karyawan Nurdin Hamzah lainnya, merangkak dari bawah.
Meski telah bergelar sarjana, Zul selalu mengikuti gemblengan sang ayah, termasuk dengan aktif ke sejumlah organisasi dagang. Pada 1999, Zul mencoba pengalaman menjadi anggota DPR dari PAN, dan akhirnya mencalonkan diri maju gubernur di Jambi. Saat itu, pemilihan masih lewat DPRD, dan dia akhirnya terpilih.
Mendagri Suryadi Sudirja melantikkan pada, Jumat 10 Desember 1999. Kerja 100 hari pertamanya, konsolidasi dan mematangkan Propeda dan Renstra. Tujuannya satu, yakni meningkatkan PAD sembari merintis investasi dari dalam dan luar negeri. Kegaduhan politik nasional merembet ke Jambi, namun Zul bisa melewati tanpa pergolakan.
Tuntas, dia mulai menggarap ekonomi bersenjatakan UU No. 22/1999 yang memberikan daerah kewenangan mengurus rumah tangganya. Dia lalu membangun Jambi sesuai dengan potensi ekonomi yang tersedia. Dia juga menyinergikan kabupaten/kota. Dia menggarap perekonomian, terutama pertanian dengan menciptakan sentra-sentra pertanian.
Misalnya sentra kedelai, jagung, jeruk dan sebagainya. Menarik investasi, dia mengembangkan perkebunan karet dan sawit. Dia mengawalinya dengan Sawit Sejuta Hektare. Melengkapinya dengan membangun sektor pertambangan, migas dan energi lewat PLTA di Kerinci dengan Norwegia dan Malaysia. Sejak itu, Jambi terkenal sebagai lumbung sawit dan karet. Dia menuntaskannya dalam dua periode pemerintahan. Dia gubernur dengan dua proses pemilihan, mengawali dipilih DPRD dan mengakhiri dipilih langsung warga Jambi. (andika arnoldy)

Penulis: andika
Editor: deddy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved