58 Tahun Provinsi Jambi

Hasan Basri Agus, Tungkus Lumus Kejar Ujung Jabung

Selain Bandara Sultan Thaha, karenanya dia mengejar realisasi Pelabuhan Ujung Jabung.

Hasan Basri Agus, Tungkus Lumus Kejar Ujung Jabung
REPRO
Hasan basri agus 

MATA pemerintah pusat belakangan selalu tertuju ke Provinsi Jambi. Selain keberadaan situs Candi Muaro Jambi, diusulkan masuk warisan dunia Unesco, juga torehan pertumbuhan ekonomi 7 persen, alias di atas pertumbuhan nasional. Belum lagi cerita sukses bedah rumah dan kebijakan Samisake.
NAmun Gubernur Hasan Basri Agus (61) belum puas. Dia ingin Jambi menjadi magnet ekonomi di Sumatera. Selain Bandara Sultan Thaha, karenanya dia mengejar realisasi Pelabuhan Ujung Jabung. Lima tahun terakhir, dia bertungkus lumus mengejarnya. Lahir di Sungai Abang, Sarolangun, 31 Desember 1953 menjadi satu di antara gubernur dengan prestasi ekonomi.
Pembangunan Pelabuhan Ujung Jabung disebutnya cita-cita warga Jambi dan harus diwujudkan siapapun gubernurnya. "Sebenarnya Ujung Jabung sudah terpikirkan sejak zaman Gubernur Maschjun Sofwan, kemudian zaman Pak Abdurrahman Sayoeti. Tapi di-cut dulu pemerintah pusat, waktu itu Pak Emil Salim Menteri Lingkungan Hidup dan Azwar Anas juga, alasannya berada di Taman Nasional Berbak," kata HBA.
Namun diajukan lagi melalui berbagai analisa termasuk dari BPPT yang menyebut Ujung Jabung strategis dan visibel menjadi pelabuhan utama. HBA tak menyerah. "Zaman saya jadi gubernur, Jambi kalau mau maju harus punya pelabuhan, kalau tidak sulit bagi kita untuk bersaing. Pastilah kita hanya jadi anak gawang, manut dengan provinsi tetangga, sebagai pelengkap," argumentasinya. Resmi gubernur 3 Agustus 2010, bersama Wagub Fachrori Umar, dia memprioritaskan infrastuktur sebagai prioritas utama. Tiga tahun tanda-tanda ikhtiranya terlihat dengan melejitnya pertumbuhan ekonomi. Tahun 2010 pertumbuhan ekonomi Jambi dengan migas sebesar 7,31 persen tanpa migas sebesar 6.79 persen.
Setahun kemudian meningkat 8,54 persen, dengan migas dan 6.93 persen tanpa migas. Tahun 2012 angka menurun menjadi 7,4 persen dengan migas dan 8,69 persen tanpa migas. Namun di 2013 kembali naik menjadi 7,88 persen dengan migas dan 8,5 tanpa migas, dan tetap menjadi tertinggi se Sumatera.
HBA anak sulung 10 bersaudara pasangan H. Agus D dan Hj Mo'ah. Sejak kecil dikenal ulet, berjiwa pemimpin, tekun dan pekerja keras. Hasan kecil tidak pernah pernah mengeluh meski sepulang sekolah punya kewajiban mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak nasi, mengangkat air dan menjaga adik-adiknya sementara ayah dan ibunya bekerja di kebun.
Memulai pendidikan di SD 1969, Hasan panggilan masa kecilnya memilih pindah ke Kota Jambi melanjutkan sekolahnya, meski jauh dari orangtua, namun tidak menyurutkan niatnya untuk menuntut illmu. Tahun 1975 Hasan sekolah di Madrasah Tsanawiyah As'ad Olak Kemang seberang Kota Jambi, nyantri di satu diantara pondok pesantren tertua di Jambi ini, jiwa kepemimpinan Hasan sudah terlihat, terbukti dia dipercaya guru dan teman-teman sekolahnya menjadi ketua kelas.
Nyantri di satu diantara Pondok Pesantren tertua di Jambi rupanya dirasa belum cukup, keinginan untuk terus belajar menuntut ilmu membuatnya ingin melanjutkan sekolah, awal tahun 1977, Hasan mendaftar di SMA Muhammadiyah Kota Jambi. Hasan kemudian melanjutkan sekolah ke IKIP Broni, semasa kuliah Hasan yang waktu itu mesti membiayai sendiri kuliahnya, juga mencari ikan seluang di sepanjang Sungai Batanghari bahkan dari malam hingga menjelang pagi, hasil tangkapanya itu ia jual ke Pasar Angso Duo.
Tak hanya itu Dia juga pernah nyambi bekerja sebagai pegawai honorer tukang ketik di kantor Dinas Kesehatan dengan gaji yang sangat kecil, sebelum akhirnya diangkat sebagai PNS di Dinas Kesehatan Kota Jambi. Perjalanan hidup Hasantahun 1980 melanjutkan sekolah di APDN, selesai kuliah Hasan mendapat jabatan sebagai Sekwilcam Kecamatan Muara Bulian, kemudian diangkat menjadi kasubag Biro Tata Pemerintahan Setda Provinsi Jambi dan kemudian menjadi Camat Perwakilan Muaro Sebo Kabupaten Batanghari, di sela-sela itu Dia juga melanjutkan kuliah di Universitas Sumatera Utara (USU).
Tahun 1989 karirnya Pria yang juga menggemari makanan Jepang dan film Komedi ini terus menanjak, HBA dilantik menjadi camat Mersam Kabupaten Batanghari dan setahun berikutnya 1990 dia diminta menjadi camat Muara Tembesi Kabupaten Batanghari. Tahun 1994 HBA juga pernah menjabat sebagai kepala kantor Catatan Sipil Bungo Tebo, kemudian pada tahun 1996 menjabat sebagai Pj.Asisten II Sekwilda Kabupaten Batanghari dan pada tahun 1997 menjadi kepala biro Kepegawaian Sekwilda Provinsi Jambi. Puncak karir di kepegawaian, 1999-2006 HBA menduduki jabatan sebagai Sekretaris Daerah kota Jambi. (bandotarywono)

Penulis: bandot
Editor: deddy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved