58 Tahun Provinsi Jambi

Dari Seberang, Abdurahmman Sayoeti Bereskan Batanghari

Perlahan kesabaran dan kepemimpinan tegas Pak Te, panggilan akrab Sayoeti di keluarga besarnya, membuahkan hasil.

REPRO
abdurrahman Sayoeti 

TAK hanya menjadi nadi keseharian warga Jambi, Sungai Batanghari juga menyimpan bom waktu di masa Gubernur Abdurahman Sayoeti. Ancaman pencemaran akibat kebiasaan buang air besar di sungai menjadi pekerjaan rumah putra asli Seberang Kota Jambi. Istilahnya Sungai Batanghari menjadi water closet terpanjang.

Perlahan kesabaran dan kepemimpinan tegas Pak Te, panggilan akrab Sayoeti di keluarga besarnya, membuahkan hasil. Kebiasaan itu berkurang. Pengalaman dan keadaan agaknya menempa Sayoeti menjadi pribadi yang disiplin. Semua bermula dari rumah, berkat didikan orangtuanya. "Abang pernah pakek celana karung beras, waktu sekolah dulu," ungkap Fachruddin Razi, adik Sayoeti.

Terlahir dari pasangan Muhammad Jaafar bin Abdul Jalil dan Siti Mahani, Gubernur Jambi 1989- 1999, itu mewarisi darah biru pemimpin dari ayahnya, seorang kepala penghulu yang disegani di masa Hindia Belanda. Ayah Sayoeti juga dipercaya menentukan urusan melihat hilal menentukan datangnya bulan puasa. Lahir di Mudung Laut, 5 Mei 1933, Sayoeti melakoni hidup dengan enam saudaranya beratap rumah kayu berdinding papan, tepat di belakang Sanggar Batik Jambi. "Kami dulu tinggal di Seberang, dekat sanggar batik, Bang Te demikian Razi memanggilnya, anak nomor duo, yang pertamo itu meninggal. Jadi abang dianggap yang paling tuo," cerita Fachruddin terbata-bata.
Sejak kecil, Sayoeti bersaudara dididik dengan pemahaman agama kuat, meski orangtuanya juga tak menghalangi anaknya belajar ilmu lainnya. Pagi bersekolah di Sekolah Rakyat Olak kemang, sorenya mengajdi di Madrasah Nurul Iman. "Kalau gak ngaji dibetet. Pokoknya wow, galak orangtuo kami dulu," ujar Razi, kini Rektor Unbari.
Setamat SR, Sayoeti masuk High Indies School (HIS), sekolah Belanda setingkat SMP berisi anak kalangan tertentu, dan lanjut ke MULO. Selain sekolah, Sayoeti aktif berjuang, dia masuk ke Tentara Pelajar (TP) Sriwijaya, melawan Belanda. Setelah keadaan aman, dia melanjutkan ke SMEA di Yogyakarta (1954), lanjut ke diploma jurusan bahasa satu tahun, dan masuk PNS Jambi dengan ijazah sarjana muda.
Kemauan belajarnya tinggi, dia ke Jakarta berkuliah di FKIP UI jurusan ekonomi koperasi, tamat 1964. Sepulangnya ke Jambi, dia diterima PNS dengan pangkat E2 di masa Gubernur Jusuf Singadekane. Sepeninggal saudara tuanya, Sayoeti menjadi "orangtua" lima adiknya. Tuhan mengganjarnya dengan karier PNS terus meroket.
Termasuk memimpin APDN Jambi (1965), sebelum akhirnya menjabat sekondan Gubernur Sofwan, dan akhirnya Gubernur Jambi. Jabatan lainnya Sekwilda. "Abang itu orangnya disiplin, dan tegas, kalau dia bilang tidak, tidak, kalau iya, iya," kenang Razi. Ketegasannya dibuktikan dengan melarang adiknya aji mumpung, memanfaatkan jabatan dirinya.
Dia ingat pernah dapat proyek pembangunan jalan dari Bupati Sarko, tapi dilarang. "Sayo ingat nian pesan abang dulu, Zi, abang ini gubernur, ibarat air sungai itu uang semua. Kalo, kita tutup, bisa buat apa saja, tapi jangan Zi itu uang rakyat, kalau ada yang menepi itulah bagian kito," ucapnya Razi meniru nasihat Sayoeti.
Menutup pemerintahannya, Sayoeti membenahi SDM dengan mendirikan lembaga pendidikan. Tangan dinginnya melahirkan Universitas Batanghari, SMA Titian Teras, dan Teater Galeri Kajang Lako lewat Yayasan Bina Lestari Budaya Jambi. Dia menutup usia pada 22 Mei 2011 di usia 78 tahun, setelah dirawat beberapa hari di RS Cinere, Jakarta.
Kendati telah wafat, sosok Pak Te tetap hidup di kenangan dua mantan ajudannya. Gubernur HBA semisal, mengaku belajar banyak dari Sayoeti. Di mata HBA, Sayoeti kharismatik dan berwibawa. HBA pernah terkejut sewaktu berkunjung ke Jakarta menjenguk Sayoeti selepas menjabat gubernur.
Dengan kondisi sakit, Sayoeti menemuinya dengan berpakaian rapi lazimnya pertemuan resmi.
Bingung, HBA memberanikan bertanya. "Nah, Anda kan sekarang sudah Gubernur Jambi, sudah kewajiban sayo untuk menyambut kunjungan gubernur," jawab Sayoeti enteng.
Sedangkan Subhi, Kepala BKD Pemko Jambi, menganggap Pak Te orangtua sendiri. Sembari berkaca-kaca, dia mengaku belakangan mengetahui pesan di balik sikap tegas dan keras Sayoeti yang kadang menjengkelkan. "Dulu saya merasa tegasnya itu, marahnya itu, sangat menjengkelkan. Tapi sekarang saya tahu yang dia ajarkan itu kelak sangat berguna," ucap Subhi. (teguhsuprayitno/ridawanjunaidi)
Kalau Marah Terucap Selontok
KATA Selontok, nama sejenis ikan pemalas di sungai, kerap terlontar dari bibir Gubernur Abdurrahman Sayoeti sewaktu marah besar. Pernah sekali ketika rapat koordinasi camat se-Provinsi Jambi di ruang pola kantor gubernur, ada seorang camat datang terlambat.
Sayoeti sedang seru-serunya menyampaikan sambutannya di podium. Bersamaan masuknya si camat, seketika suasana menjadi hening. Karena mendadak saja, Sayoeti berhenti berbicara dan melihat ke arah tempat duduk di belakang. Apa katanya, "Hoi Selontok jangan duduk di belakang, ke depan nih," tegurnya kepada camat yang hanya telat beberapa menit saja.
Pun, sewaktu kunjungan ke kabupaten, dia menemui ada pekerjaan jalan yang tidak beres, dan melalui stafnya dia minta bekerja dengan baik. "Tolong panggil Selontok itu, kerjo yang benarlah," suara kecil Sayoeti melengking menjewer bawahannya. Dan ini ciri-ciri dia sudah marah betul.
Ketika ditanya kenapa kata-kata Selontok itu acapkali keluar, inilah jawaban Sayoeti, "Kau ndak tau yo, Selontok itu simbol pemalas. Malas belajar, malas begawe, malas galo-galonyo. Singgonyo kalu la malas, sudahlah abislah cerito," ungkap Sayoeti dengan nada serius di ruang kerjanya di penghujung masa jabatan periode pertama (1989). (ridwan junaidi)

Penulis: ridwan
Editor: deddy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved