58 Tahun Provinsi Jambi
Dari Jalan Berkubang Menuju Ujung Jabung
. Namun tantangan Jambi, di matanya bukan hanya keterisoliran namun juga kenyataan Jambi seperti tak tercetak di peta Pulau Sumatera.
Penulis: agus | Editor: Deddy Rachmawan
IBARAT perkawinan, usia 58 tahun Pemprov Jambi telah melewati usia emas melangkah usia berlian, sebagai penanda kesetiaan dan loyalitas kepada komitmen dan janji suci. Namun lima dekade perjalanan sebuah pemerintahan tak ubahnya bayi belajar merangkak. Ada jatuh bangungnya, terpenting berusaha dan terus berusaha.
Keyakinan itulah yang terekam sewaktu mengenang masa pemerintahan Gubernur Masjchun Sofwan (87). Datang dari Temanggung, dia dipercaya Presiden Soeharto membangung Provinsi Jambi. Bermodal pengalaman Bupati Temanggung (1964-1978), Sofwan langsung dihadapkan tantangan jalan berkubang dan berhari-hari dari Jambi ke kabupaten di Provinsi Jambi, di pengujung 70-an.
Namun demi menjawab keluhan warga di sekujur Jambi, termasuk dari Bangko, dia lantas blusukan turun melihat sendiri kondisi negerinya. Berbekal Toyota Land Rover, sasis ganda, dia berkeliling Jambi keluar masuk desa, memetakan jalan dan membuka keterisoliran. Jalan dan akses transportasi menjadi prioritas pembangunannya.
Perlahan namun pasti, akses transportasi terbuka melancarkan nadi perekonomian. Namun tantangan Jambi, di matanya bukan hanya keterisoliran namun juga kenyataan Jambi seperti tak tercetak di peta Pulau Sumatera. Padahal, menarik investasi mensyaratkan informasi, persis seperti pepatah tak kenal maka tak sayang, dan geografi.
Olahraga akhirnya menjadi strategi jitu Sofwan menyulap Jambi. Hasilnya, lewat renang dengan Nasution sekeluarga dan sederet olahraga lainnya, Jambi dikenal di pentas nasional. Satu langkah membuka mata pemerintah pusat di tengah centang perenang akses transportasi. Pilihan Sofwan memprioritaskan infrastruktur menjadi landasan Pemprov Jambi dan gubernur penerusnya mengikhtiarkan pembangunan sektor lainnya.
Seperti peningkatan kualitas SDM yang menjadi prioritas Gubernur Abdurahman Sayoeti (1989- 1999). Dengan ketegasan, Sayoeti juga harus berjibaku melawan kebiasaan warga Jambi mengabaikan keberadaan Sungai Batanghari. Jika dulu, menurut catatan sejarah, tepian Sungai Batanghari pernah menjadi kuasa peradaban, beberapa abad kemudian malah menjadi tempat buang hajat besar.
Tak mudah mengubah kebiasaan, namun tidak bagi Pak Te, sapaan akrab Sayoeti. Kerja kerasnya berbuah. Dari Seberang, dia benar-benar membereskan sebagian persoalan di Sungai Batanghari. Namun dia tak berhenti di situ. Dia meyakini SDM bekal membangun Jambi, karenanya perlu disiapkan. Dia menerjemahkannya dengan merintis lembaga pendidikan.
Lembaga itu diharapkan menjadi sumur bakat dan potensi anak Jambi. Lahirlah Universitas Batanghari, SMA Titian Teras dan sebagainya. Ketegasan dan dedikasi itu akhirnya terbawa hingga ke para ajudannya, termasuk Gubernur Hasan Basri Agus. Satu kenangan tak bisa dilupakan HBA, datang sebagai bekas bawahan, HBA tak menyangka akan disambut layaknya atasan.
"Nah, Anda kan sekarang sudah Gubernur Jambi, sudah kewajiban sayo untuk menyambut kunjungan gubernur," ucap HBA menirukan jawaban bekas mentornya. Senada pengakuan Subhi, Kepala BKD Pemko Jambi, yang menganggap Pak Te orangtua sendiri. Sembari berkaca-kaca, dia mengaku belakangan mengetahui pesan di balik sikap tegas dan keras Sayoeti yang kadang menjengkelkan. "Dulu saya merasa tegasnya itu, marahnya itu, sangat menjengkelkan. Tapi sekarang saya tahu yang dia ajarkan itu kelak sangat berguna," ucap Subhi.
Jika Sofwan meletakkan pembangunan fisik, Sayoeti meletakkan pembangunan mental lewat pendidikan dan karakter. Dia tak suka kemalasan. Hanya selontok saja yang layak malas. Selontok ialah ikan pemalas di sungai. Selontok terlontar jika Pak Te marah besar. Pembangunan mental diyakini berguna sebagai landasan membangun ekonomi, dan memberdayakan potensi daerah.
Sejak dulu Jambi dikenal dengan perkebunannya. Bahkan karet Jambi pernah berandil terhadap kemerdekaan negeri ini, dan dilanjutkan dengan sawit yang berhasil memperbaiki perekonomian penduduk, pendatang dan warga tempatan.
Pilihan sawit bukan tanpa alasan. Dalam darah saudagar Gubernur Zulkifli Nurdin (1999- 2010), sawit adalah ketapel perekonomian, dan karenanya layak menjadi panglima ekonomi di tahun penuh kegaduhan politik. Mantra sederhana namun mujarab. Karena seperti analogi perut lapar bisa setajam pedang, ekonomi perlu dinomorsatukan di masa-masa penuh pergolakan politik era reformasi.
Hasilnya, Jambi relatif terhindar dari kegaduhan. Stabilitas di masa Orde Baru menjadi pilar pembangunan, selain pemerataan dan pertumbuhan. Pilihannya bertumbuh lalu merata, atau sebaliknya. Gubernur Hasan Basri Agus berusaha mengharmoniskan. Pertumbuhan dengan pemerataan.
Tiga tahun pemerintahannya sejak 2010, telah menunjukkan hasil. Perekonomian Jambi tumbuh 7 persen lebih, jauh di atas pertumbuhan nasional, bahkan menjadi juara di Provinsi Sumatera. Jika pertumbuhan ekuivalen dengan terbuka lapangan pekerjaan, HBA mendistribusikan kue pertumbuhan dengan menginisisi kebijakan Satu Miliar Satu Kecamatan.
Harapannya, agar kue pembangunan terasa hingga lapis terbawah. HBA melengkapinya dengan bedah rumah, beasiswa dan terus membangun jalan. Mempercepatnya, HBA menginginkan Jambi menjadi magnet investasi, agar tak hanya dalam negeri, tapi pemodal luar negeri datang berinvestasi.
Langkah awalnya meluaskan Bandara Sultan Thaha, dan mengejar realisasi Pelabuhan Ujung Jabung. Hasilnya? Ada baiknya mencermati pesan Jane Jacobs, penulis The Death and Life of Great American Cities, "Kota memiliki kemampuan menyediakan sesuatu bagi warga kotanya, jika dan bila dibangun oleh semua warga kotanya." (agoes soemarwah)