Breaking News:

Citizen Journalism

Dari Jambi Keliling Lima Negara Asean

Peribahasa lain ladang lain belalang, lain lubuk lain pula ikan agaknya tepat menggambarkan pengalaman Raisa

Editor: Fifi Suryani
Dari Jambi Keliling Lima Negara Asean
Ist

Raissa Mataniary
Peserta Ship for South East Asian and Japanese Youth Program (SSEAYP) asal Jambi

TRIBUNJAMBI.COM - Peribahasa lain ladang lain belalang, lain lubuk lain pula ikan agaknya tepat menggambarkan pengalaman Raisa selama mengikuti program pertukaran remaja antara negara Asean. Selain berkunjung ke lima negara, dia mengaku mendapat banyak pengalaman. Termasuk belajar kebudayaan dan bertenggang rasa di atas kapal
SHIP for South East Asian and Japanese Youth Program (SSEAYP), biasa disebut Kapal Pemuda Asia Tenggara dan Jepang merupakan program pertukaran pemuda sekujur Asia Tenggara dengan Jepang. Mereka disatukana di satu kapal bernama Nipponmaru, hidup dan berinteraksi dengan berlayar ke lima negara. Mereka belajar kebudayaan.
Lima negara menjadi tujuan. Yakni Jepang, Brunei Darussalam, Kamboja, Myanmar, dan Indonesia. Saya merasa sangat beruntung bisa terpilih menjadi satu wakil Indonesia di kegiatan itu. Di SSEAYP, kami belajar bagaimana caranya menjadi pemimpin yang baik, saling tenggang rasa terhadap adat-istiadat yang berbeda, dan membangun persahabatan dengan para pemuda dari negara yang berbeda.
Setiap mengunjungi suatu negara, kami diharuskan untuk tinggal bersama orang tua asuh agar lebih dapat memahami budaya dari negara tersebut. Banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil dari perjalanan saya kelima negara, sebagai Duta Pemuda dari Indonesia. Dari Jepang, saya sangat termotivasi akan kesadaran para masyarakatnya mengenai kebersihan.
Dari Brunei Darussalam, saya bisa tahu cara mereka mengapresiasi para tamu yaitu dengan menyuguhkan makanan-makanan lezat. Dari Kamboja, saya belajar tentang indahnya rasa kekeluargaan. Dari Myanmar, saya sungguh mengagumi bagaimana para masyarakat Myanmar menghormati dan merawat Pagoda, tempat ibadah mereka.
Sebelum berlayar dengan kapal Nipponmaru, saya dan teman-teman negara lain berkumpul di Tokyo sebagai awal dari perkenalan kami. Di Tokyo, kami melakukan kegiatan diskusi, penampilan seni, serta upacara kenegaraan. Dari Tokyo, kami berpencar ke 11 prefektur (atau provinsi di Indonesia) yang berbeda untuk tinggal bersama orangtua asuh.
Prefektur Hiroshima menjadi tempat saya berlabuh setelah Tokyo. Di Hiroshima, saya tinggal dengan orangtua asuh yang luar biasa baik hati. Mereka mengajak saya berkunjung ke pulau indah yang berada tidak jauh dari Hiroshima, yaitu pulau Miyajima. Orang tua asuh saya sangat perhatian dengan agama saya yang membatasi saya untuk mengonsumsi makanan tertentu.
Mereka senantiasa memperhatikan menu makanan saya dan memastikan agar saya tidak termakan makanan yang tidak seharusnya saya makan. Selama perjalanan kami, orangtua asuh saya selalu merekam setiap kegiatan kami. Awalnya saya merasa aneh dengan mereka yang selalu sibuk memotret dan merekam kami.
Rupanya ketika hari terakhir saat saya akan pulang ke Tokyo, orangtua asuh saya memberikan Compact Disc berisi rekaman perjalanan kami di Hiroshima yang mereka rekam dalam bentuk foto dan video. Saya merasa sangat terharu akan ketulusan mereka. Di program SSEAYP, saya belajar bagaimana caranya menjadi representasi negara Indonesia. Setiap gerak-gerik yang saya lakukan, semua tidaklah atas nama saya pribadi, namun atas nama Indonesia.
Melalui program ini saya bisa sadar bahwa tidak seharusnya generasi muda pesimis akan masa depan Indonesia. Indonesia bisa lebih cerah, apabila kita mau. Melalui program ini, saya termotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, meraih pendidikan setinggi-tingginya, dan mengabdi pada Negara Indonesia.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved