Ini Hasil Riset Paham Teologi Perempuan Kelurahan Mudung Laut Kota Jambi

Identitas penduduknya sebagai masyarakat Melayu yang keseluruhannya beragama Islam terbentuk dari suatu karakter keagamaan yang dianut turun temurun.

TRIBUNJAMBI.COM, YOGYA - Ratnawaty (61 tahun) mengatakan, potret pahan teologi perempuan  yang berkembang di Kalurahan Mudung Laut, Kota Jambi berimpikasi dalam meningkatkan etos kerja perempuan di sana.
    Kesimpulan tersebut diperoleh Dosen IAIN STS Jambi ini, setelah melakukan riset paham teologi perempuan di Kalurahan Mudung Laut Kota Jambi dan pengaruhnya terhadap etos kerja mereka. Ratnawaty melakukan riset dengan pendekatan naturalistik. Sementara, data  riset kualitatif yang dilakukannya diperoleh melalui kuesioner, wawancara dan observasi.
            Hasil riset perempuan kelahiran Bengkulu ini dipertahankan untuk meraih gelar Doktor bidang Ilmu Agama Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dengan mengangkat judul "Paham Teologi Dalam meningkatkan Etos Kerja perempuan (Studi Kasus di Kalurahan Mudung laut Kota Jambi)" dan dipresentasikan di Convention Hall, kampus setempat, Selasa (16/12/2014). Ratnawaty mempertahankan karya Doktoralnya ini di hadapan tim penguji Dr. Karwadi, M. Ag.,  Dr. H. Waryono Abdul Ghofur, M. Ag., Prof. Dr. H. Nasruddin Harahap, SU., Dr. Ruhaini Dzuhayatin, MA., Dr. H. Hamin Ilyas, MA., (promotor merangkap penguji), Prof. Dr. H. Irwan Abdullah (promotor merangkap penguji).
            Di hadapan promotor dan tim penguji, promovendus memaparkan, masyarakat Mudung Laut Kota Jambi dengan corak dan identitas penduduknya sebagai masyarakat Melayu yang keseluruhannya beragama Islam terbentuk  dari suatu karakter keagamaan yang dianut para warganya secara turun temurun. Kenyataan ini, kata Ratnawaty, dapat dilihat dari berbagai kegiatan yang mengacu pada tata cara keagamaan Islam. "Misalnya pada upacara pernikahan, pengurusan jenazah, dan upacara selamatan. Semuanya dilakukan menurut Islam," katanya..
            Kecenderungan paham keagamaan masyarakat Mudung Laut tergolong konsisten. Hal ini dapat dilihat dari potret paham  keagamaan mereka  yang hanya mengenal paham Syafi'iyah untuk mazhab fikih dan  Ahlssunnah Wal Jama'ah untuk paham teologi. Mereka tidak familier dengan mazhab teologi lainnya, seperti Qadariyah ataupun Mu'tazilah.
           Pergeseran pahan teologi kaum perempuan Mudung Laut Kota Jambi dari pahan Jabariyah menjadi paham Qadariyah berimplikasi pada produktifitas kerja mereka. Hal ini ditandai dengan kondisi sosial dan etos kerja mereka sebelum tahun 1980-an yang bersifat statis dan eksklusif. Sehingga sebagian besar kegiatan mereka berada di rumah dan sekitarnya.
           "Kondisi ini mngalami perubahan yang cukup drastis memasuki tahun 1980-an, dimana paham teologi baru yang mereka prektikkan adalah paham teologi Qadariyah dengan konsep free will. Paham ini telah menginspirasi mereka untuk terlibat aktif dalam berbagai aktifitas sosial ekonomi masyarakat. Khususnya dalam sektor industri rumahan. Diantara faktor penting perubahan paham teologi dan etos kerja tersebut adalah meningkatnya kebutuhan ekonomi dan semakin terbukanya aksesibilitas yang secara periodik dapat mengubah cakrawala dan cara pandang mereka terhadap paham teologi," ujarnya.
            Menurut promovendus, budaya kerja wanita di Mudung Laut terbentuk karena budaya lokal dan kebutuhan ekonomi masyarakat setempat. Konklusi penting lain dari risetnya, menurut promovendus, menghasilkan temuan bahwa, kegiatan keagamaan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. "Ketaatan mereka menjalankan kewajiban ibadah adalah sebuah corak masyarakat tradisional yang masih memegang teguh nilai religius yang dimilikinya," kata  ibu 5 putra dari suami Drs. Makhtar Damsyah ini. (bm)

Editor: duanto
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved