Media Famtrip 2014

Seteko Teh dan Kebun Bunga di Kayu Aro

Di perusahaan warisan kolonial Belanda inilah penggalan sejarah Kerinci terekam.

Penulis: Deddy Rachmawan | Editor: Deddy Rachmawan

Jambi patut bangga dengan Kerinci. Di bumi yang eksotis lagi magis ini, tiga tempat wisata yang ikonik menyandang predikat "ter". Gunung Kerinci sebagai gunung tertinggi di Sumatera, Danau Gunung Tujuh adalah danau tertinggi di Asia Tenggara. Terakhir, perkebunan teh Kayu Aro yang didapuk sebagai kebun teh terluas di dunia.

PERJALANAN nyaris nonstop, sejak Kamis (13/11) hingga Sabtu (15/11) tak dipungkiri membuat peserta Media Famtrip 2014 letih. Tapi, rasa lelah terbayar tunai begitu tiba di Bumi Sakti Alam Kerinci. Terlebih ketika mata tersihir hamparan permadani hijau daun teh di Kayu Aro, milik PTPN VI.
"Ih bagus bangeeet," ujar Uthe, peserta Media Famtrip dari majalah My Trip begitu melihat perkebunan teh di kaki Gunung Kerinci itu. Entah berapa petik ia mengambil gambar landmark Kerinci itu dari kamera ponselnya. Setelah menyaksikan pembukaan Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci (FMPDK) ke-13, Sabtu sore kami bertolak ke Kayu Aro.
Di Mess Pemda Kerinci kami menginap setelah sebelumnya menikmati air terjun Telun Berasap. Perkebunan dan pabrik teh Kayu Aro milik PTPN VI adalah tujuan terakhir kami. "Kebun ini ada sejak 1925 dan mulai berproduksi pada 1932," ujar Asisten SDM Umum Kebun Kayu Aro, Ngabianto yang menyambut kami.
Di perusahaan warisan kolonial Belanda inilah penggalan sejarah Kerinci terekam. Pihak PTPN VI Kayu Aro termasuk yang menghargai sejarah. Sebuah ruangan difungsikan sebagai museum. Di ruang itulah foto-foto pimpinan kebun di sana dipajang. Termasuk pimpinan pertamanya yang merupakan seorang Belanda, Camiel de Kroes. Bila PTPN tak menemukan foto pimpinan yang pernah menjabat, gantinya dibuat cetakan tanda tangan orang dimaksud.
Tak hanya itu, arsip-arsip lawas tersimpan baik di sini. Tribun sempat membuka-buka tumpukan arsip mendapati, arsip tertua yang terdokumentasikan dibuat tahun 1952. File tersebut isinya beragam, mulai dari tuntutan buruh, surat upah hingga laporan perusahaan. Perkebunan teh Kayu Aro adalah hasil kerja para buruh dari Jawa yang dibawa oleh perusahaan Belanda Namlodee Venotchaat Handle Verininging Amsterdam.
Perusahaan inilah yang akhirnya pada 1959 diambil alih Pemerintah Republik Indonesia. Menariknya, baru-baru ini kebun teh Kayu Aro mendapat kunjungan istimewa. "Jadi cucunya Emil, pimpinan pertama kebun ini yang orang Belanda datang ke sini," tutur Ngabianto.
Dengan luas kebun 3.500 hektare di ketingian 1.600 mdpl, kebun teh Kayu Aro memiliki pabrik yang bisa dikunjungi wisatawan. Tentu, setelah wisatawan mengantongi izin mereka bisa menyaksikan proses produksi teh yang kualitas terbaiknya menjadi minuman Ratu Elizabeth.
Bahkan kini, di lokasi pabrik dibuat taman bunga dan pendopo. Menurut Ngabianto, nantinya taman tersebut dibuka untuk umum dan bisa menikmati teh Kayu Aro. Luasan kebun teh di kaki Gunung Kerinci ini disebut terluas di dunia karena ia berada di satu hamparan. Kebunnya menyatu tak terpisah-pisah seperti perkebunan teh lainnya.
Hanya saja, ada tanya yang menggantung begitu mengetahui 1.000 hektare kebun teh akan dialihkan menjadi kebun kopi. "Masihkan predikat kebun teh terluas di dunia akan disandang kebun Kayu Aro?" Apapun itu, bila Anda ke Kerinci sempatkanlah mampir kemari. Bila beruntung, seteko teh kualitas nomor satu bisa Anda nikmati. (deddy rachmawan)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved