Minggu, 10 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Jelajah Kuliner

Yuk, Nikmati Sensasi Tempoyak Buluh

Masyarakat Jambi tentunya sudah tak asing dengan tempoyak. Tidak sulit menemukan makanan khas

Tayang:
Penulis: wahid | Editor: Fifi Suryani
Yuk, Nikmati Sensasi Tempoyak Buluh - TEMPOYAK.jpg
TRIBUN JAMBI/ALDINO
Yuk, Nikmati Sensasi Tempoyak Buluh - TEMPOYAK2.jpg
TRIBUN JAMBI/ALDINO
Yuk, Nikmati Sensasi Tempoyak Buluh - TEMPOYAK3.jpg
TRIBUN JAMBI/ALDINO
Yuk, Nikmati Sensasi Tempoyak Buluh - TEMPOYAK4.jpg
TRIBUN JAMBI/ALDINO
TRIBUNJAMBI.COM - Masyarakat Jambi tentunya sudah tak asing dengan tempoyak. Tidak sulit menemukan makanan khas yang satu ini, karena rata-rata rumah makan yang ada di Jambi masih menyajikan menu tersebut. Namun menyantap tempoyak yang diolah menggunakan kelapa muda serta dimasak di dalam bambu, barangkali belum pernah Anda jumpai.

Tempoyak buluh namanya. Sesuai namanya, tempoyak ini dimasak di dalam buluh (bambu) layaknya membuat ikan senggung. Bedanya, tempoyak buluh lebih kaya bumbu. Ikannya pun lain, bila ikan senggung umumnya menggunakan ikan gabus atau toman, tempoyak buluh tetap menggunakan ikan patin layaknya tempoyak pada umumnya.

Wajar bila masyarakat belum begitu mengenal kuliner yang satu ini, karena kreasi olahannya memang belum lama ditemukan. Praktis baru berjalan satu setengah bulan, tempoyak buluh diperkenalkan oleh Hj Herni. Ibu tiga anak ini ingin membuat tempoyak dengan citarasa dan keunikan baru.

“Awalnya karena kepikiran waktu makan lemang. Saya lihat lemang kan enak, harum. Pernah juga masak gulai ikan pakai buluh, dan ternyata enak. Akhirnya kepikiran kenapa ini tidak dipakai juga buat tempoyak? Setelah dicoba, akhirnya jadi tempoyak buluh,” kata Hj Herni, ketika ditemui Tribun, beberapa waktu lalu.

Dari segi bahan dan bumbu, tak ada perbedaan terlalu besar antara tempoyak biasa dengan tempoyak buluh. Hanya saja untuk memunculkan citarasa baru, Hj Herni menambahkan beberapa bahan baru, yakni kelapa muda, daun kemangi, serta daun kunyit dan daun sereh. Dari penuturan perempuan 52 tahun ini, daun kemangi memiliki fungsi sebagai penghilang bau amis ikan, sedangkan daun kunyit dan daun sereh untuk memberikan sensasi harum.

“Kalau bahan lainnya sama lah, ada bumbu tempoyak, kunyit, cabai, garam sama gula sebagai pemanis. Karena kalau tempoyak kan agak asam ya,” lanjutnya, sembari mempraktikkan.

Langkah pertama untuk membuat tempoyak buluh adalah menyiapkan bahan, lengkap dengan bambu utuh yang telah dibersihkan, sepanjang 50 cm. Jika sudah, proses selanjutnya adalah menghaluskan bumbu. Cabai, kunyit, sereh, kelapa muda yang telah dikeruk tipis, serta tempoyak dicampur menjadi satu. Daun kemangi dan daun sereh dibiarkan dalam kondisi aslinya.

Urutan

Memasukkan bahan-bahan ke dalam bambu tak bisa sembarangan. Pertama lapisi dinding dalam bambu menggunakan daun pisang. Bila sudah baru masukkan bahan secara urut. Pertama masukkan daun kemangi dan daun kunyit, disusul bumbu tempoyak. Bila sudah, giliran ikan segar dimasukkan ke dalam bambu, namun sebelumnya ikan tersebut dioles dengan air kelapa yang dicampur bumbu tempoyak. Bumbu tempoyak kembali dimasukkan, disusul daun kemangi.

Persiapan terakhir adalah menutup ujung bambu, agar ikan matang sempurna ketika dimasak.. Bila sudah, buluh berisi tempoyak tadi dikukus. Proses mengukus cukup lama, yakni 20 hingga 25 menit.

“Bumbu dan cara pengolahan memberikan citarasa baru. Pertama, kuah lebih kental, karena kalau tempoyak biasanya kuah ada bercampur air, kalau kita kuah tempoyak itu saja. Kedua, rasanya lebih harum karena dikukus bersama daun kunyit. Yang terakhir ada rasa gurih dari dogan tadi,” paparnya.

Penasaran? Anda bisa mencoba sendiri membuat tempoyak buluh di rumah. Tapi bila Anda ingin mencicip sekaligus bertanya langsung kepada Hj Herni, ia mengaku tak akan menutup-nutupi resep khasnya tersebut. Di rumah makan Hj Herni, tempoyak buluh dijual Rp 20 ribu perporsi. Namun bila makan di tempat, harganya akan lebih murah.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved