Young Ster

Menanamkan Rasa Cinta Batik dari Dini

Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity. Itulah pengakuan yang telah diberikan UNESCO

Penulis: wahid | Editor: Fifi Suryani
Menanamkan Rasa Cinta Batik dari Dini - BATIK.jpg
TRIBUN JAMBI/WAHID NURDIN
Menanamkan Rasa Cinta Batik dari Dini - BATIK2.jpg
TRIBUN JAMBI/WAHID NURDIN
Menanamkan Rasa Cinta Batik dari Dini - BATIK3.jpg
TRIBUN JAMBI/WAHID NURDIN
Menanamkan Rasa Cinta Batik dari Dini - BATIK4.jpg
TRIBUN JAMBI/WAHID NURDIN
Menanamkan Rasa Cinta Batik dari Dini - BATIK5.jpg
TRIBUN JAMBI/WAHID NURDIN

TRIBUNJAMBI.COM - Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity. Itulah pengakuan yang telah diberikan UNESCO untuk batik Indonesia, tertanggal 2 Oktober 2009 silam. Betapa ironisnya bila warisan budaya yang telah diakui dunia ini, tidak menjadi kebanggan warga Indonesia. Namun sepertinya tidak. Dengan berbagai kreasinya, batik yang tadinya identik dengan usia tua telah menjadi tren tersendiri di kalangan anak muda. Kenapa tiba-tiba membicarakan batik? Karena belum lama ini, sebuah penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) diberikan untuk Jambi. Uniknya, rekor tersebut dipecahkan oleh anak-anak PAUD.

Matahari sebenarnya belum beranjak terlalu tinggi, Kamis lalu. Namun ribuan anak usia dini sudah menyemut di pelataran parkir mal Jamtos. Beralaskan koran dan terpal seadanya, anak-anak yang didampingi guru dan orang tua ini mulai duduk berjajar. Di hadapan mereka telah tersedia kaus putih lengkap dengan pewarna dan kuas.

Ribuan anak usia dini yang datang dari penjuru Kota Jambi ini akan beradu kreasi mewarna motif batik dalam acara bertajuk "Membatik Anak di Usia Dini Bersama Bunda PAUD untuk Mewujudkan Masyarakat Cinta Batik Jambi”. Sebuah acara yang diadakan pemerintah Kota Jambi bekerja sama dengan beberapa pihak lainnya untuk mengenalkan batik sejak dini kepada anak-anak.

Meski acara baru dimulai sekitar pukul 08.00 wib, namun keramaian anak-anak ini sudah terlihat sejak pukul 07.00. Mereka tidak perlu menorehkan motif batik, mengingat rumitnya motif seni tersebut. Anak-anak cukup menorehkan pewarna sesuka keinginan mereka pada kaus putih yang telah diberi motif batik dasar.

Setengah jam setelah waktu pelaksanaan dimulai, sinar matahari ternyata sudah cukup memanaskan peserta. Namun tak sedikit dari mereka yang tetap bertahan dengan karyanya. Aurel, peserta dari PAUD Karya Mandiri misalnya. Didampingi sang mama, ia tampak asyik dengan kuas di tangan kanannya meski ribuan anak lainnya sudah menepi karena mulai kepanasan.

"Asyik, senang," katanya singkat sambil melanjutkan lukisannya.

Wajah sumringah jelas terlihat dari Wali Kota Jambi, Syarif Fasha, menyaksikan anak-anak yang begitu asyik membatik. Saat menyampaikan sambutan dan membuka acara tersebut, orang nomor satu di Kota Jambi ini menyampaikan apresiasi sekaligus harapannya melalui acara ini. Menurutnya batik merupakan warisan budaya yang harus dijaga kekestariannya.

"Dengan acara ini semoga batik sudah dikenal oleh anak-anak kita sejak dini. Harapannya ke depan mereka memiliki rasa cinta terhadap batik itu sendiri," ucapnya.

Acara yang dimulai sekitar pukul 08.00 hingga 09.00 ini berhasil memecahkan rekor MURI. Piagam tersebut diberikan langsung okeh deputi manajer Museum Rekor Indonesia, Awan Rahargo kepada pihak penyelenggara. Mewarna batik yang diikuti sekitar 3.500 anak usia dini tercatat dalam piagam nomor 6699.

"Setelah tim kami hitung, jumlah peserta sebanyak 3.449. Jumlah tersebut sudah memecahkan rekor," kata Awan.

Bila menengok sejarahnya, Wikipedia menuliskan bahwa seni pewarnaan kain dengan teknik perintang pewarnaan menggunakanmalamadalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesirmenunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkusmumiyang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. DiAsia, teknik serupa batik juga diterapkan diTiongkoksemasaDinasti T'ang(618-907) serta diIndiadanJepangsemasaPeriode Nara(645-794).

DiAfrika, teknik seperti batik dikenal olehSuku YorubadiNigeria, sertaSuku SoninkedanWolofdiSenegal. DiIndonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelahPerang Dunia Iatau sekitar tahun 1920-an

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved