Ekspor Jambi Terjun Bebas

Produksi sektor pertambangan mineral dan batu bara (Minerba) di Provinsi Jambi, terutama pertambangan batu bara, mengalami penurunan drastis.

Penulis: hendri dede | Editor: Deddy Rachmawan

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Produksi sektor pertambangan mineral dan batu bara (Minerba) di Provinsi Jambi, terutama pertambangan batu bara, mengalami penurunan drastis.

Data yang disampaikan Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi, per September 2014, ekspor minerba didominasi batu bara mencapai 170,78 ribu ton. Ekspor ini mengalami penurunan 47 persen. Kondisi ini juga mempengaruhi total ekspor Jambi, yang juga mengalami penurunan 12,68 persen.
Menurut BPS, faktor produksi dan jumlah perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan mempengaruhi penurunan nilai ekspor Jambi. Sektor pertambangan memberikan kontribusi 38,11 persen.
Penurunan produksi pertambangan batu bara ini dipengaruhi faktor turunnya permintaan batubara dunia serta harga yang rendah. Di sisi lain, biaya angkutan batu bara dari perusahan ke Pelabuhan terus meningkat.
Selain itu, sejumlah perizinan pertambangan perusahaan batubara yang dicabut turut mempengaruhi. Begitu juga dengan produksi biji besi dan emas di tingkat perusahaan belum optimal.
Kabid pertambangan dan umum ESDM provinsi Jambi, Adul Salam, mengatakan, di sektor pertambangan mineral biji besi, emas, dan bahan batuan terdapat sembilan perusahaan trennya mengalami penurunan. Seperti dari dua perusahaan mineral biji besi baru yang berproduksi di Merangin, satu diantaranya sudah menghentikan kegiatan karena belum potensial.
Hanya satu lagi yang sekarang masih stagnan, namun itupun masih terkendala peraturan pemerintah nomor 2 tahun 2014 tentang peningkatan nilai tambang, yang mengharuskan mereka melakukan pengolahan dan pemurnian dalam negeri untuk bisa melakukan kegoiatan ekspor.
Kata salam, aturan itu membuat ekspornya masih dalam jumlah yang terbatas. Ini mengakibatkan tersendatnya peluang mereka ekspor dalam jumlah besar keluar negeri.
"Produksi dan harga batu bara turun. Untuk emas belum ada perusahaan yang berproduksi, kalau sektor batuan tidak begitu signifikan produksinya," jelasnya kepada Tribun, kemarin (20/10)
Dia menyampaikan dari total 378 perusahan batubara di Jambi, kini hanya tinggal 12 perusahaan yang produksi. Perusahaan yang masih bertahan tersebut itu juga karena masih terikat kontrak ekspor ke luar negeri.
Batubara yang diambil kebanyakan SR-nya rendah, sehingga cost perusahaan kecil. Apalagi saat ini harga batubara berkisar 22-27 dolar AS per ton masih tergolong rendah di pasar internasional.
"Yang membuat mereka (perusahaan) bertahan karena ada kontraknya, SR kecil sehingga costnya kecil. Mereka masih masih untung cuma sedikit," terangnya. (hdp)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved