Incar Pohon Langka

Polhut TNB Tangkap Tangan Tiga Pelaku Pembalak Pohon Langka

Aksi Illegal Logging tampaknya masih marak terjadi di Provinsi Jambi. Ironisnya, para pelaku beraksi di kawasan hutan nasional.

Polhut TNB Tangkap Tangan Tiga Pelaku Pembalak Pohon Langka
Net

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Aksi Illegal Logging tampaknya masih marak terjadi di Provinsi Jambi. Ironisnya, para pelaku beraksi di kawasan hutan nasional. Tak tanggung-tanggung para pembalak mengincar pohon yang berusia tahun dan terbilang jenis pohon langka.

Baru-baru ini, Tim Patroli Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Berbak (TNB), mengamankan tiga orang tersangka yang diduga melakukan aksi Illegal Logging. Para pelaku tertangkap tangan sedang menebang kayu jenis meranti, yang usianya sudah mencapai ratusan tahun.
Dijelaskan Kepala Balai TNB, Agus Tinus, ketiga tersangka masing masing berinisial DS (23), M (35) dan S (35).
Ketiganya diamankan petugas sekitar pukul 13.00 WIB Kamis (9/10) pekan lalu. Ketiganya tertangkap tangan sedang memotong kayu Meranti berdiameter sekitar 1,5 meter. Kayu tersebut diperkirakan berusia lebih dari satu abad.
"Mereka tertangkap tangan sedang memotong kayu menggunakan mesin chinsaw. Karena suara mesin itu kan ribut, jadi mereka tidak menyadari kehadiran petugas. Tanpa sempat kabur, mereka langsung kita kepung di lokasi,"kata Agus, Jumat (17/10).
Para pelaku diamankan di kawasan hutan TNB, sekitar 1,5 kilometer dari kawasan perkampungan warga di Resort Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Dari hasil pemeriksaan petugas, kayu tersebut merupakan pesanan seseorang. Rencananya akan digunakan untuk membuat kapal.
"Pengakuannya mereka disuruh oleh seseorang. Saat ini kami masih kumpulkan bukti untuk menangkap aktor intelektualnya," katanya.
Dari keterangan ketiga tersangka, kayu tersebut akan dipotong dengan lebar 20 Cm, dan panjang 25 meter sesuai pesanan. Satu kepingnya dijual seharga Rp 700 ribu. Sementara per satu batangnya dijual seharga Rp 5 juta rupiah.
Ketiga pelaku saat ini dititipkan di Lapas Kelas IIA Kota Jambi. Selain mengamankan ketiga tersangka, petugas Polhut juga turut mengamankan sejumlah barang bukti, berupa peralatan yang lazim digunakan untuk menebang kayu, yakni, dua unit chinsaw, meteran, parang, serta lima potongan kayu meranti yang telah ditebang dengan ukuran panjang 25 meter dengan diameter 1,5 meter.
"Ketiganya masih dalam proses hukum. Untuk saat ini mereka dianggap telah melanggar Undang-Undang nomor 18 tahun 2014, tentang pencegahan perusakan hutan dengan ancaman 5 tahun untuk perorangan. Karena ini kelompok, ancamannya 15 tahun," kata Agus.
Lahan Basah Terbesar di Asia Tenggara
Kawasan Hutan Nasional Berbak, merupakan hutan rawa nasional terluas se Asia Tenggara, dengan luas mencapai 162.720 hektare. Hal ini diungkapkan Dodi Kurniawan, kasi SPTN I Polhut Balai TNB, Jumat (17/10).
Letak geografisnya yang sangat strategis, karena berlokasi dekat dengan laut, membuat kawasan TNB menjadi kawasan hutan lindung yang berbeda dengan taman nasional lainnya.
Di TNB saat inni terdapat 200 jenis tanaman hutan yang langka, dan memiliki kualitas terbaik, di antaranya Meranti, Punai, Ramin, Jelutung, Pile, Sungkai, Bulian, Balam serta ratusan jenis kayu lainnya hidup di sana.
"Kayu Meranti kualitas nomor satu cuma ada di sana. Usianya pun sudah ratusan tahun, para pelaku ini hanya mengincar kayu Meranti karena mereka tahu, kayu Meranti kualitas terbaik hanya ada di sana,"papar Dodi, Jumat (17/10).
Karena kondisinya yang sangat staregis, dunia kemudian menjadikan TNB sebagai lahan basah Internasional, melalui Konvensi Ramsar melalui Kepres nomor 54 tahun 1991.
Kondisi ini yang kemudian membuat para pelaku Illegal Logging menjadikan TNB tujuan strategis. "Tidak hanya lahan basah terbesar di Asia Tenggara, tetapi juga bagi para pelaku Illegal Logging,"ungkapnya.
Tercatat sejak Desember 2013 hingga Oktober 2014, Polhut TNB telah mengamankan 13 pelaku Illegal Logging. 10 di antaranya telah dijatuhi hukuman atas kejahatan itu. "Yang tiga sekarang masih kita proses, para pelaku rerata berkelompok, dan memiliki jaringan yang dibekingi pemodal besar," katanya.
Dijelaskan Dodi, kayu Meranti yang diincar pelaku rerata sudah berusia ratusan tahun. Keberadaan kayu Meranti tersebut sudah ada sejak ditetapkannya TNB sebagai swaka margasatwa pada zaman Belanda, tahun 1835.

Kayu Meranti yang ditebang memiliki posisi penting dalam ekosistem di Taman Nasional Berbak. Seiring dengan maraknya aktivitas Illegal Logging, keberadaan kayu Meranti berusia ratusan tahun, dan berbagai pohon lainnya kini terancam punah.

Penulis: Dedy Nurdin
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved