Pengukuhan Adat Depati Marga Serampas

Momen Khusus Keluarnya Benda-benda Pusaka

Ada dua pedang yang sedang diasah dan dimandikan disana. Di belakang yang memandikan pedang berjejer duduk para Depati Marga Serampas.

Momen Khusus Keluarnya Benda-benda Pusaka
TRIBUNJAMBI/JAKA HENDRA BAITTRI
ritual pencucian pusaka 

Selepas Bada Isya, Yusuf langsung mengganti pakaian santai yang dikenakannya dengan pakaian adat warna hitam dengan tambahan motif garis emas di bagian dada. Ikat kepala warna ungu pun kemudian dikenakan. Sementara diluar rumah, udara dingin menerpa desa Renah Alai, Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin.


Bukan tanpa sebab M Yusuf mengenakan pakaian tersebut. Malam itu, Jumat (10/10), ia akan
dilantik menjadi Depati Karti Mudo Menggalo, satu pemimpin adat Marga Serampas. Masyarakat adat Serampas sendiri berada di lima desa yang dipimpin secara adat oleh Depati. Khusus bagi Yusuf yang bakal dilantik menjadi Depati Karti Mudo Menggalo, ia akan memimpin tiga wilayah yakni Desa Renah Alai, Rantau Kermas dan Lubuk Mentilin. Ini sesuai dengan hasil musyawarah bersama yang harus dihormati dan dijalani.
Masyarakat pun mulai berduyun-duyun datang ke balai desa yang juga digunakan untuk lapangan bulutangkis. Udara dingin tak menyurutkan langkah warga. Lampu-lampu yang biasa ada di hall untuk menerangi warga bermain bulutangkis, menyala terang benderang. Tampak warga dari segala usia duduk berjejer, ada yang menggunakan baju koko, baju biasa hingga menggunakan sarung untuk sekedar mengurangi rasa dingin.
Meski harus berjejer, namun tempat duduk kaum pria dan wanita dipisahkan. Tampak sebelah kanan pintu masuk khusus untuk wanita. Sementara sebelah kiri untuk kaum pria. Tampak di sudut sebelah kiri hall diletakkan meja. Ada dua pedang yang sedang diasah dan dimandikan disana. Di belakang yang memandikan pedang berjejer duduk para Depati Marga Serampas. Selain Yusuf yang akan dilantik menjadi Depati Karti Mudo Menggalo juga ada Depati Pulang Jawa, dan Depati Singo Negaro. Selanjutnya ada Depati yang memiliki kedudukanpaling tinggi yakni Depati Sri Bumi Puti Pemuncak Alam Serampas. Khusus pemimpin tertinggi ditandai dengan ikat kepala dan kain yang diikatkan di pinggang berwarna merah.
Pemimpin Tertingi dan para Depati tampak bercakap-cakap, kala satu tetuo adat yaitu Ruslan bersama seorang kiyai memandikan dua pedang yang dikatakan pedang laki dan pedang betino.
"Pedang laki namonyo Siginjai Ngamuk, sedang yang betinonyo dak ingat. Sudah banyak yang lupo," ujar Ruslan sembari menyatakan bahwa para tetua pun sudah banyak yang lupa dengan nama pedang betino.
Pedang tersebut diasah dengan Uras, semacam ramuan yang terdiri dari Daun Sekraw, Serumpai, Paku Kemian dan Daun Sedingin.
"Sedangkan kemenyan memang ada dibakar, tapi hanya untuk meneruskan tradisi, bukan untuk hal yang mistis-mistis," terang Roland, seorang pemuda setempat kepada Tribun.
Sebelum pengukuhan, sejumlah benda-benda pusaka pun dikeluarkan. Ini tak sembarang waktu, hanya pada acara khusus. Benda-benda tersebut diantaranya Piagam Serampas, piring makan raja dan dua buah pedang yang terdiri dari pedang laki dan pedang perempuan tadi.
Piagam Serampas yang mempunyai cap dari kerajaan ini berisikan tentang batas wilayah Serampas yang sudah disahkan oleh Raja Jambi. Ada satu benda pusaka yang terpaksa tidak dikeluarkan karena sudah sangat tua dan lapuk, yakni kertas tentang silsilah Marga Serampas.
Asap dari kemenyan yang dibakar mengepul, acara pun dimulai.
Tepat pukul 20.40 WIB, asap dari kemenyan mulai mengepul pekat tanda acara dimulai. Aceng Syaiful Taman yang dipilih menjadi pembawa acara dengan mengenakan baju adat berwarna kuning mulai membacakan susunan acara. Diawali dengan penyampaian Perago oleh para tetua adat. Perago sendiri merupakan semacam pembuka tentang maksud dan tujuan diadakannya acara ini.
Mendadak tetuo adat menanyakan kepada warga sebelum acara dilanjutkan, "Yo Kito"? dan di jawab oleh warga,"yo!" jawab warga beramai-ramai.
Setelah itu baru ada ata sambutan dari Depati Karti Menggalo. Di dalam sambutannya ia mengatakan beberapa tugas yang akan dijalani seorang Depati yaitu menjalankan adat, dan mengarah warga setiap awal dan akhir tahun. Ini yang dimaksud oleh Depati tentang arahan dimana tanah yang dibolehkan untuk berkebun. Depati menentukan tempatnya, karena warga Serampas memang banyak yang masih pergi ke ladang.
"Mohon maaf kalau ada yang tersinggung, tapi adat kita juga tidak memperkenankan lahan kita untuk digarap orang luar atau pun mempekerjakan orang luar," katanya dalam logat Merangin.
Dalam kehidupan warga Serampas hutan menjadi bagian terpenting. Karena dari hutan, air dapat diproduksi untuk keberlanjutan sawah dan kehidupan mereka. Karena itu warga Serampas mempunyai hutan adat yang merupakan kawasan yang mempunyai peranan penting ini. Di samping itu ada aturan lain dalam berladang dan menentukan lahan yang bisa digunakan.
Singkatnya masyarakat dilarang untuk membuka lahan pertanian di daerah yang mempunyai kelerengan yang sangat curam, di larang membuka lahan di hulu air atau sungai, dilarang membuka lahan- lahan yang mempunyai kemiringan tajam, di larang menebang pohon tertentu seperti durian, tanaman seri (pohon yang buahnya sering menjadi makanan burung), masyarakat di larang membuka lahan pertanian di kawasan padang batu. Selanjutnya masyarakat dilarang mendekati kawasan hutan adat yang bersisian dengan TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat). (jakahendribaiti/bersambung)

Penulis: Jaka Hendra Baittri
Editor: deddy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved